Minggu, 27 November 2016

maafkan aku mami

Salma Aneta yang biasa dipanggil Neta. Neta sekarang bersekolah di sekolah Asrama yang nama tempatnya “Asrama Queen Girl” sekolah itu hanya khusus untuk perempuan saja. Neta tidur bersama sahabatnya yaitu Bella Vonica yang biasa dipanggil Nica dan satunya yang bernama Viona Anala yang biasa dipanggil Nala.
Di Kamar Neta Dan kedua Sahabatnya
Di pagi yang cerah Neta, Nica dan Nala bersiap-siap untuk Mandi.
Neta dan kedua sahabatnya telah mandi, dan memakai baju seragam.
“Ayolah kita segera pergi ke kelas nanti telat loh…” Ucap Nica
“Iya nih, Nila lama amat pake bedak lapisannya banyak banget” Sahut Neta
“Iya donk, biar gak luntur tau!” Jawab Nala
“Ya udah deh…. terserah kamu” Kata Neta
“Ayo, kita ke kelas” Ajak Nica
Di Kelas
“Student minggu depan ada lomba menari. Yang mewakili kelas kita adalah Neta, Nica ,dan Nala. Kalian boleh bawa orangtua kalian. Dan nama yang Miss. Valentina tadi panggil ikut saya, dan yang lainnya kerjakan Bahasa Indonesia hal 210 sampai 220” Ucap Miss. Valentina
Di Ruang EXTRA
Di ruang extra M. Valentina memanggil guru nari, yang bernama Miss. Nabila Alayla dipanggil Miss. Layla.
“Miss. Layla, ini murid aku yang akan mewakili kelas VA.” Ucap M. Valentina
“Namanya siapa aja Miss?” Tanya M. Layla
“Salma Aneta, Bella Vonica, Viona Anala” Jawab M. Valentina
“Thanks” Sahut M. Layla
Usai Latihan
Setelah selesai latihan mereka menelepon orangtuanya kecuali Neta. Orangtua Nica dan Nala mau datang setelah mereka menelepon, Neta langsung menelepon maminya tetapi maminya menjawab “tidak bisa karena mami masih banyak pekerjaan” jawabnya
Tetapi Neta tetap memaksa, dan akhirnya maminya mau datang ke acaranya Neta.
Minggu Depan
Nama kelompok Neta, Nica dan Nala disebut pertama. Setelah mereka selesai menari, mami Nica dan Nala memberi tepuk tangan tetapi mami Neta belum juga datang
“Aduh… mami kok gak datang datang sih, ah… aku jengakel deh!” Ucap Neta sendiri
“Aduh…. ada yang nelepon” Kata Neta
“Mami kamu telah tiada karena kecelakaan dan sekarang berada di rumah sakit Hospital Dirgahayu Bunda” Ucap seseorang “Apa?? Mami telah tiada??” Kata Neta sambil sedih dan kecewa “Mi maafin Neta ya… karena Neta telah memaksa mami untuk dateng ke konser aku. Karena aku mami tiada.”

kaca cinta

“Fel, salah melulu dari tadi!,” bentak Bram saat Felly salah memetik senar gitarnya untuk kunci G.
“Maaf, Bram gue nggak sengaja,” jawab Felly cemas setelah ia teringkat dari bentakan Bram.
“Ada masalah, Fel?,” tanya Riska yang tengah memperhatikan Felly dengan raut wajah yang bercampur aduk. Antara bingung, cemas, kawatir dan juga takut.
“Cerita kenapa, Fel? Daripada kayak begini. Jadi masalah juga kali buat kita semua. Lo nya jadi nggak konsen,” sahut Billy dengan memetik senar bazznya perlahan.
Felly menatap rekan-rekan bandnnya satu-persatu. Menatap mereka dengan sendu. Mengeryitkan dahinya. Seakan, memebri tahu mereka bahwa hatinya tengah perih merasakan kehidupannya.
Felly Anggi Wiraatmaja. Gadis dengan tallent vokal dan juga kemampuannya untuk bermain gitar. Disertai wajah ayu, berfasilitas mata bersudut lancip, bulu mata yang lentik, alis yang samar, hidung mancung dengan standart, serta bibir yang bergaris tipis antara atas dan bawah. Masalah tinggi, ideal dengan bentuk tubuhnya.
“Bram, Bil, menurut kalian, gue cantik nggak?” tanya Felly konyol kepada rekan temannya.
Bram dan Billy dan bertatapan. Mengedikkan bahunya. Menggeleng menanda tak mengerti.
“Tumben ngurusin masalah kecantikan, Fel? Abis kena setan mana, lo?,” tanya Riska dengan mengangkat salah satu alisnya dan tetap bertumpu pada pianonya.
“Kalau menurut gue, cantiknya enggak. Imut yang iya. Kenapa? Karena giginya taring lo, dan lesung pipi lu, serta bibir lu yang mungil tipis itu,” jawab Billy.
“Kalau gue sih, yang menarik mata lu Fel. Lirikannya, seksi-seksi gimana gitu? Emangnya ada apaan sih sama lo, tiba-tiba nanya begituan. Perasaan, lo paling ogah sama yang begituan!,” jawab Bram dengan melipat kedua tangannya di depan dada setelah meletakkan stik drumnya.
“Arka selingkuh! Sama temen sekelasnya! Gue kurang apa sih sama dia? Kurang cantik? Gaul? Kurang sispres (Siswa Berprestasi)? Maunya dia apaan sih?”
“Mungkin karena tomboy!,” jawab Riska.
“Kalau masalah begituan, udah basi. Tahu gitu ngapain nembak dan mau ngejalanin hubungan selama ini?!”
“Mungkin, karena lo kurang perhatian sama dia, atau mungkin lo sibuk dengan dunia dan urusan lo sendiri. Padahal, di saat itu, Arka butuh sentuhan lo! Bisa juga, lu nya terlalu mengekang dia. Over Ptotect gitu. Padahal, lo sendirinya juga nggak begitu. Mungkin aja karena faktor begituan!,” sahut Bram manggut-manggut.
Felly terdiam setelah mendengar perkataan teman-temannya. Memandang gitarnya beberapa detik. Lalu, melangkahkan kakinya ke luar studio. Berjalan menuju atap sekolah. Menghirup angin yang menerpa dirinya. Dalam kesunyian senja ia berdiri. Menatap keramaian kota dengan yang penuh dengan lampu pijar. Menengadah pada senja. Berkata dalam bisu. Berteriak dalam tangis, dan menyesal dalam sendu.
Mengingat semua perkataan rekannya, Felly merasa mereka benar. Selama ini, Felly selalu mengabaikan Arka. Padahal, di waktu itu Arka membutuhkan Felly. Saat Arka mengucapkan kata manja kepadanya, Felly selal menampisnya dengan kata olokan. Saat Arka menghubungi Felly dan menyatakan rindunya, Felly sering mengabaikannya. Menganggap, hal itu adalah kata gombal semata. Padahal sebaliknya.
Tangis yang begitu berderu bersama angin, membayangkan wanita itu. Yah… wanita yang bersama dengan Arka sekarang. Perbandingan fisik dan kemampuan mereka memang jauh berbeda. Sangat jauh. Akan tetapi, saat melihat mata wanita itu, Felly merasakan rasa kasih sayang seorang ibu di dalam sana. Teduh, damai dan penuh kehangatan. Jauh dengan dirinya yang hanya memiliki bentuk mata yang indah, dan lirikan mata yang seksi.
Felly terus berfikir tentang Arka. Ia merasa sangat bersalah saat mengingat perbuatannya terhadap Arka. Menyia-nyiakan cinta dan kasih sayang arka yang begitu tulus. Mengingat namanya dan juga suaranya, Felly bertekad untuk pergi. Meski, hal itu menyiksa dan juga menyakitinya. Ia sadar, cinta yang sesungguhnya tidak memandang berdasarkan fisik, kemampuan atapun hal yang lainnya. Melainkan, memandang kelemahannya. Mengorbankan kebahagiaan untuk orang tercinta, adalah bukti dari cinta ketika sedang mencintai. Dengan begitu, Felly bertekad pergi dan memberikan kebahagiaan kepada mereka. Dengan, menyerahkan hubungan cinta kepada wanita itu dan dia. Yah… Arkana Aditya. Laki-laki telah menggores seribu kisah dan pelajaran hidup untuk Felly.
Cerpen Karangan: Pratiwi Nur Zamzani
Facebook: Pratiwi Nur Zamzani (Pakai Kerudung Putih)
Nama saya Pratiwi Nur Zamzani. Dapat menghubungi melalui akun facebook saya yaitu Pratiwi Nur Zamzani ( Pakai kerudung putih ) atau E-mail pratiwinurzamzani@yahoo.co.id. Dengan no Telepon 085 – 852 – 896 – 207. Prestasi yang pernah saya raih adalah juara 3 Mading, puisi dan cerpen pernah diterbitkan di majalah SPEKTRUM serta berbagai buku antologi lainnya.

pacar bukanlah segalanya

Hari itu aku sedang mengikuti MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah). Aku berada di gugus 3 bersama sahabat karibku Putri. kakak pembimbingku adalah kak riko dan kak citra. Kak riko sangat tampan dan juga sangat baik, dia tidak pernah marah seperti kakak-kakak pembimbing yang lain. Aku mulai jatuh cinta kepadanya. Selama tiga hari MPLS tak henti-hentinya aku memperhatikan kakak pembimbingku itu dan sepertinya dia juga mengetahui kalau aku menyukainya, karena ia sering menangkap basah diriku yang sedang memperhatikannya.
Aku tidak bilang kepada siapapun kalau aku menyukai kakak kelasku itu, aku juga tidak bilang kepada sahabatku yang bernama putri. Aku sudah tahu kalau dia tidak akan mengijinkanku pacaran, alasannya karena di islam tidak boleh berpacaran. Aku selalu mengikuti Kajian Remaja Islami Putri (KRIP) yang selalu diadakan di mesjid yang dekat dengan rumah putri. Aku rutin mengikuti kajian itu dari kelas satu smp, satu minggu sekali setiap hari kamis.
Aku sedang membaca sebuah novel favoritku di taman utama sekolah baruku, di SMA 17 *******. Aku duduk di taman sendiri, tanpa sahabatku putri. Karena dia sedang makan di kantin, tetapi aku sedang berpuasa senin kamis. Kebetulan putri sedang halangan, jadi dia tidak berpuasa. Sedang asyiknya membaca, kursi taman yang terbuat dari kayu berbunyi “krekett” sepertinya ada seseorang yang duduk di sampingku. Aku menutup novel yang sedang asyik kubaca, karena merasa tidak nyaman ketika ada yang duduk di sebelahku. Aku mengankat kepala, aku menengok ke arah orang yang duduk di sebelahku. di didepanku ada seseorang yang tidak asing lagi dia adalah kak riko kakak kelasku. Dia tersenyum kepadaku, membuat jantungku berdetak lebih kencang. Aku membalas senyumannya. Aku segera berdiri.
“De sebentar, boleh duduk dulu?” Ucapnya menghentikan diriku yang akan berdiri, aku pun duduk kembali.
“Iya kak.” Ucapku tersenyum. Bagaimana aku bisa menolaknya, aku terlalu senang mendengarnya.
“De, boleh minta id line?.”
Aku memberikan id ku kepadanya. Sejak saat itu aku sering linean dengannya. Selama kurang lebih satu minggu, handphoneku tidak pernah jauh dari diriku. Untuk pertama kalinya aku meninggalkan kajian, karena kak riko melarangku. Aku tidak bisa menolaknya.
Aku menunggu seseorang di taman dekat rumahku. Seorang laki-laki datang memakai baju basket berwarna biru dongker tanpa lengan. Dia duduk di sampingku.
“Lama ya de?”
“Enggak ko kak? Udah latihan basketnya?” Ucapku
“Oh gitu, udah kok udah selasai.”
Aku hanya mengangguk
“De. Kakak mau bilang sesuatu. Boleh tidak?” Ucapnya tersenyum miring
“Iya kak silahkan.” Ucapku dengan suara yang sedikit bergetar. Saat itu aku bergikir kalau kakak kelasku itu akan menembakku.
“Kakak suka sama ade, ade mau jadi pacar kakak?” Ucapnya
“Mmmm, iya kak ade mau.” Bagaimana bisa aku menolaknnya, aku juga sangat mencintainya.
“Tapi de, ada satu permintaan dari kakak. Kalau memang ade mau terima kakak ade harus buka jilbab ade, tapi kalau tidak mau juga kakak juga tidak bisa memaksa.”
“Tapi kak, aku…”
“Pilihannya ada di tangan ade. Apapun keputusan ade kakak terima.” Ucapnya memotong pembicaraanku.
Aku bergikir sebentar, kesempatan ini tidak akan datang dua kali.
“Iya kak, ade terima.”
“Makasih sayang.” Dia memelukku.
“De, boleh dibuka sekarang jilbabnya?”
“Iya kak.”
“Boleh kakak yang bukain?” Ucapnya memegang jilbabku.
Aku hanya mengangguk. Kak riko melepaskan jilbabku, juga ikat rambutku.
“Kamu lebih cantik jika tidak memaki jilbab.”
Aku pun tersenyum.
Aku berjalan sendiri di gang menuju rumahku. Terlihat putri yang berjalan ke arahku.
“Ya allah re. Kok kamu enggak pake jilbab sih?” Ucapnya seperti khawatir.
Aku hanya memeluknya.
“Put, aku sudah berpacaran dengan kak riko. Aku menyukainya dari mulai kita MPLS.”
“Aku ikut senang kalu kamu juga senang. Tapi re kemana jilbab kamu?” Ucapnya memegangi rambutku
“Mmm, aku melepasnya. Karena kak riko tidak suka kalau aku memakai jilbab. Toh aku lebih cantik kalau tidak pakai jilbab kan?.”
“Astagfirullah re. Ingat re, pacar bukanlah segalanya.” Ucapnya memandangiku
“Oh, jadi kamu tidak senang jika aku berpacaran dan membuka jilbabku. Ya sudah kita jangan bersahabat lagi, pasti seorang sahabat akan mendukung apapun yang membuat sahabatnya senang. Tapi kamu malah seperti itu put.” Aku pun pergi meninggalkannya.
Sudah satu bulan aku jadian dengan kak riko. Aku sudah tidak lagi mengikuti KRIP karena kak riko melarangku. Aku berjalan di taman dekat rumahku. Ada potret yang tidak enak terlihat, pemandangan yang membuat hatiku hancur. Terlihat kak riko sedang bergandengan tangan dengan wanita yang sepertinya seumuran denganku. Aku segera menghampiri mereka.
“Kamu siapanya dia?” Ucapku kepada wanita itu
“Aku pacarnya riko.”
“Apa? Tapi dia pacarku.” Lirihku
“Maaf re, hubungan kita cukup sampai di sini. Aku sudah mencintai pacarku yang sekarang.” Ucap kak riko.
Aku segera berlari ke rumah putri dan air mata pun mengalir dengan deras.
Aku mengetok pintu rumah putri. Putri pun segera membukanya. Aku segera memeluknya. Aku menangis di pelukannya.
“Kenapa re?”
“Puttt, kak riko selingkuh.”
“Oh ya, apa yang aku bilang pacar bukanlah segalanya kan?”
“Iya put, aku menyesal sudah mengenal yang namanya pacaran dan juga telah melepas jilbabku.”
Aku kembali mengenakkan jilbab. Benar kata putri bahwa pacaran bukanlah segalanya, ada hal yang lebih penting dari itu yaitu masa depan kita. Terimakasih putri telah mengingatkanku, semoga persahabatan kita diberkahi oleh allah, amiiin.

satu hari berdampak selamanya

Terdengar suara ketukan pintu dan suara dari luar pintu kamarku.
“Re!” Ucapnya. Panggilan itu membuatku menutupkan novel yang sedang aku baca.
“Iya bu, masuk saja!” Ucapku dengan sedikit berteriak.
Masuklah seorang wanita yang berumur lanjut, dia adalah ibuku.
“Ada apa bu?” Tanyaku dengan suara lembut
“Ibu mau nyuruh kamu beli keperluan untuk pengajian malam ini. Kamu sibuk tidak? Kalau sibuk biar kakakmu saja yang ke pasar.”
“Ohh, enggak kok bu. Lagian rere bosen dari pagi di rumah terus.”
Tak perlu waktu lama untuk berdandan, aku hanya tinggal menggunakan jilbab. Aku pun pergi ke pasar menggunakan motor matic punyaku. Di rumahku sudah menjadi kebiasaan mengadakan pengajian sebulan sekali, itu adalah tradisi keluarga kami. Aku menyusuri pasar dan membeli makanan untuk pengajian malam nanti. Hanya makanan ringan, buah-buahan dan makanan manis. Semuanya sudah lengkap, tidak banyak hanya perlu 1 kresek besar untuk itu. Kresek itu tidak menyulitkanku di motor, lagi pula aku sudah biasa membeli makanan untuk pengajian. Kalaupun bukan aku yang membelinya pasti kakakku yang membelinya. Aku segera menaiki motor untuk pulang. Aku berhenti di sebuah toko aksesoris untuk mengambil bross pesananku. Toko itu bernama toko “bunga”. Aku turun dari motor, di sebelah motorku ada sebuah motor yang sama, di atas motor itu ada seorang laki-laki yang sedang memegang handphone dan menggunakan earphone. Pemuda itu bernama Adit, dia bersekolah di sekolah yang sama denganku di SMAN 17 *******. Persoalannya bukan karena ia satu sekolah denganku, tapi karena dialah pemuda yang aku sukai. Aku tidak menampakan rasa sukaku itu. Aku memasuki toko itu, dan sudah kubayar bross yang sudah aku pesan itu. Aku segera ke luar dari toko itu. Terlihat seorang wanita berada di belakang Adit, wanita yang cantik menggunakan t-shirt berwarna putih dengan celana di atas lutut. Sangat berbeda penampilannya denganku, dia cantik dan modis sedangkan aku seperti ini. Aku kira dia adalah kekasih adit, entah benar atau salah.
Tak ada yang tahu kalau aku menyukai adit, aku memang wanita yang pendiam. Kepada kakakku pun aku tidak menceritakannya karena malu. Yang bisa aku lakukan hanya menunggunya melewati kelasku, itulah yang selalu aku lakukan setiap hari. Teman seselasku sania sepertinya mengetahui kalau setiap hari aku menunggunya dari dalam kelas, karena dia bertanya kepadaku.
“Eh re, lo suka ya sama Adit?” Ucapnya yang duduk di sebelah kursiku
“Apaan sih san, aku gak ngerti.”
“Udah gak usah ngelak, aku tahu kok. Aku sudah mengetahuinya, setiap hari kamu hanya memandangi pintu kelas kita yang terbuka lalu setelah adit terlihat jalan di depan pintu kamu selalu tersenyum dan setelah itu tak lagi memperharikan pintu kelas yang terbuka. Aku bisa bantu kamu re!”
“Iya aku mengaku, aku menyukainya. Bantu? Tapi percuma saja dia mungkin sudah punya pacar. Aku melihatnya kemarin, pacarnya sama sepertimu cantik dan juga modis.”
“Benarkah? Ya sudah kamu juga berubah saja penampilannya seperti aku. Agar adit menyuakimu.”
“Mmm, aku tidak mau san.”
“Kamu ini, katanya cinta tapi begitu. Cinta itu butuh pengorbanan re!”
“Iya juga sih, tapi kan aku memakai jilbab. Bagaimana kalau keluargaku mengetahui aku membuka jilbab?”
“Tidak akan, kau membuka jilbab hanya di sekolah saja re. Aku punya seragam yang sudah kecil tapi masih bagus kok. Sepertinya cukup di badan kamu. Nanti besok kamu pagi-pagi datang dulu ke rumah aku, entar kamu aku dandani biar cantik. Mau tidak?”
Aku hanya mengangguk dan tersenyum.
Besoknya, aku datang ke rumah sania seperti yang ia suruh. Aku memakai baju sekolah yang berbeda dari biasanya dengan baju lengan pendek, dan rok diatas lutut. Aku merasa kurang nyaman memakainya, tapi demi adit aku akan melakukannya. Sampailah di sekolah. Semua orang menatapku tak percaya, begitu pun adit, laki-laki yang mebuatku merubah penampilan. Adit terlihat keget melihatku, aku bisa melihat dari matanya yang melongo. Aku berjalan seperti cara sania berjalan. Hari itu sania ada pemotretan di sekolah, dia adalah seorang model sekolah. Aku pun diajaknya untuk menjadi model tambahan, aku pun mengikutinya. Tidak aneh memang memakai baju dan rok sepertiku sekarang ini. Tapi mungkin yang membuat semua orang menatapku karena sebelumnya aku memakai jilbab yang berbeda dari siswi lainnya. Setelah pemotretan, sania menyarankanku untuk mendekati adit. Dia menyuruhku untuk memanggilnya ketika jam pulang sekolah.
Aku menunggu laki-laki itu melewat ke depan kelasku. Tak lama menunggu laki-laki itu terlihat berjalan di depan pintu kelas yang kosong, hanya ada aku di sana. Dia pulang telat, karena dia sudah rapat OSIS. Aku tahu dari sania.
“Tunggu.” Teriakku.
Adit terlihat jalan mundur untuk melihat orang yang memanggilnya. Aku berdiri dan jalan menghampirinya.
“Aku mau bicara sesuatu, apa kamu sedang sibuk?” Ucapku tersenyum dan mengangkat alisku.
Dia hanya menggeleng.
Kami pun duduk di koridor depan kelasku.
“Mau apa?” Ucapnya, untuk pertama kalinya dia bicara kepadaku
“Aku renita. Langsung saja ya. Aku suka sama kamu, maaf kalau aku lancang” ucapku yang merendahkan suara.
“Aku tahu kamu renita, semua orang membicarakanmu. Suka?.”
“Iya aku suka. Aku sudah merubah penampilanku untukmu.” Ucapku tersenyum menampakan deretan gigiku.
“Astagfirullah. Aku tidak menyangka kalau kamu merubah penampilan demi seorang laki-laki sepertiku. Aku tidak pernah menyuruhnu bukan?”
“Iyah aku melakukannya untukmu. Tidak, kau tidak menyuruhku. Kau ingat kan waktu aku melihatmu di depan toko bunga. Pacarmu berpenampilan sangat modis dan cantik. Sania teman sekelasku menyarankanku untuk berpenampilan seperti pacarmu itu. Lagian hampir semua siswi di sekolah ini sama seperti penampilanku sekarang ini kan?”
“Pacar? Dia sepupuku. Aku tidak menyangka wanita yang dikagumi di sekolah ini oleh diriku. Wanita yang berbeda dengan wanita lain, wanita itu memakai jilbab. Tapi mengubah penampilan yang amat bagus itu, menjadi seperti ini. Jujur saja aku juga menyukaimu.”
“Oh jadi itu sepupumu. Kamu juga menyikaiku?”
“Iya, tapi itu dulu. Sebelum kamu merubah penampilanmu.”
“Hah, tapi kan itu semua demi kamu dit.”
“Sudahlah aku sekarang jijik melihatmu, auratmu di umbar-umbar. Wanita seperti apa kau ini?”
Aku pun berlari dengan menangis meninggalkannya.
Bodohnya aku. Imanku begitu rendah, begitu mudahnya membuka jilbab yang sudah aku kenakan dari dulu. Waktu kecil pun aku tidak membuka jilababku. Auratku sudah terlihat oleh seluruh siswa dan guru laki-laki yang bukan muhrimku. Hanya satu hari memang aku berpenampilan seperti siswi di sekolahku, tapi itu membuatku terlihat jijik. Tak lama lagi foto-fotoku akan di tempel di mading sekolah. Entah bagaimana keluarga, ibu, ayah, kakak memandangku. Sungguh aku mempermalukan diriku dan keluargaku. Hanya demi laki-laki aku melakukaknnya. Laki-laki yang justru menyukaiku ketika memakai jilbab. Teman, apa sania adalah teman? Benar dia adalah teman. Tapi teman yang seperti apa? Teman yang menuntunku ke jalan yang menjauhi Allah. Satu hari penampilan ku berdampak selama hidupku. Di dunia pun sudah dicap jijik oleh sebagian orang dan di akhirat akan merasakan panasnya api neraka juga rambut yang digantung karena menampakan mahkota yang seharusnya aku jaga.

terima kasih fatimah

“Duduk disitu aja yuk..” Ajakku kepada sahabatku
Hari ini usiaku bertambah lagi, dan itu artinya sisa waktuku pun semakin berkurang. Seperti tahun-tahun sebelumnya, setiap hari ulangtahunku aku selalu mengajak sahabat tercintaku untuk makan malam bersama. Namun tidak seperti tahun-tahun biasanya aku mengajaknya ke restoran mewah bintang lima, melainkan kali ini aku mengajaknya makan di pedagang kaki lima pinggir kampus kami.
Aku dan Fatimah telah bersahabat sejak kami berusia 5 tahun, sungguh bahagia dan tak akan pernah ada setitik pun penyesalan karena telah menjadikannya sahabat yang sangat dekat denganku. Bahkan aku telah mengaggapnya sebagai saudaraku sendiri begitupun ia menganggapku. Fatimah telah mengajarkan arti sesungguhnya dari sebuah kehidupan, mengajarkanku untuk selalu bersyukur meskipun Allah memberi nikmat seujung kuku. “Allah akan menambah nikmat hambanya jika hamanya pandai bersyukur.” Itu kalimat yang selalu terucap dari bibir manis Fatimah setiap kali aku mengeluh.
“Pagi Kinar.” Fatimah menyimpulkan senyum manisnya
“Pagi juga.” Jawabku tak membalas senyumnya
“Hey ada apa? Nona manis pagi-pagi murung begitu? Nanti mataharinya ikut redup loh.” Tanya Fatimah mencoba menggodaku.
“Huh.. Please deh Fatimah matahari gak akan ikut redup kan kamu udah senyum manis banget pagi-pagi gini.”
“Haduuhh kamu.. iya iya okey serius. Ada apa Kinar?” Fatimah mulai memasang raut wajah yang serius
“Aku sebel aja sama Mamah aku, masa aku minta iphone keluaran terbaru gak dikasih coba?” Ujarku dengan nada ketus namun Fatimah hanya tersenyum.
“Kok cuma senyum?” Raut wajahku semakin semerawut.
“Enggak Kinar lucu saja, bukankah baru seminggu yang lalu ya kamu ganti iphone? Apa udah rusak sampai kamu harus minta ganti?”
“Rusak sih enggak, tapi kemaren tuh aku liat iphone terbaru udah keluar. Keren banget, makanya aku pengen.”
“Ooh jadi kamu minta ganti karena keinginan kamu?”
“Iyalah. Harusnya mamah nurutin kemauan anaknya.” Kalimat terakhirku menutup perbincangan kami pagi ini karena bel masuk telah berbunyi dan guru pelajaran pertama pun telah memasuki kelas.
Waktu sudah menunjukkan pukul 16.00 WIB. Aku dan Fatimah pun telah selesai melaksanakan ibadah sholat ashar.
“Fatimah, mau langsung pulang?” tanyaku kepadanya ketika melihat ia berbelok ke arah parkir sepeda. Fatimah hanya tersenyum dan menggangguk.
“Ikut aku dulu yuk, sepeda kamu tinggal aja disini nanti pulangnya baru diambil.” Aku menarik tangannya berharap ia ingin ikut denganku.
“kemana?”
“Sudah ayuukk ikut dulu sajaa, mumpung lagi free homework kan?”
“Kamu akan pulang sebelum magrib dan tetap bisa membantu ayahmu berjualan, aku janji.” Lanjutku dengan senyum memaksa. Kemudian Fatimah mendesah pelan dan mengiyakan ajakanku.
“Kamu mau ajak aku kemana?”
“Aah sudah ini kamu pake helmnya terus duduk manis aja di belakang jangan banyak tanya yaa..” Fatimah menuruti keinginan Kinar, ia pun segera memakai helm yang diberikan Kinar. Dengan cepat Kinar pun memakai helmnya dan motornya melaju dengan cepat.
“Modern IT-Square? Kamu mau apa Kinar kesini?” Tanya Fatimah bingung ketika motor Kinar berhenti di depan Mall megah itu.
“Aku mau beli iphone terbaru yang tadi pagi aku ceritain itu.” wajah Kinar tampak bersemangat sangat bertolak belakang dengan ekspresinya tadi pagi.
“Loh, bukankah mamahmu tidak mengizinkan? Lalu, kamu pakai uang siapa Kinar?” raut wajah Fatimah mulai berubah kesal.
“Tenang tenang, aku gakkan sejahat itu kok sampai mencuri uang orangtuaku. Tidak Fatimah.” Aku hanya tersenyum sambil menariknya masuk.
“Lalu?” Fatimah menghentikan langkahnya yang lantas membuatku terhenti.
“Ayolaah Fatimah, kamu sahabat terbaikku..” aku kembali menarik tangannya.
“Berhenti kinar! Jelaskan dulu padaku kau punya uang darimana?” kali ini Fatimah melepaskan tangannya dari genggamanku.
“Okey okey.. Jadi, aku berfikir kenapa aku tidak gunakan ATMku? Toh ATM yang aku miliki ini bukan dari mamah tapi dari papah. Jadi aku tidak punya urusan dengan mamahku bukan?” Kemudian aku kembali tersenyum dan menarik tangan Fatimah menuju gerai salah satu ATM disana. Fatimah hanya mengangkat bahunya.
“Bagaimana kamu bisa berfikir begitu? Bagaimana kalau papahmu tahu tentang hal ini?”
“Tidak apa, papahku tidak sepelit mamahku Fatimah. Sudahlah tidak apa, aku tahu betul bagaimana papahku.” Mendengar jawaban Kinar, Fatimah hanya mendesah dan tersenyum.
Setelah mendapatkan iphone yang diinginkannya, Kinar pun mengantarkanku untuk mengambil sepeda yang aku titipkan di sekolah, dan seperti janjinya. Aku sampai di rumah sekitar pukul 17:40 WIB.
“Terimakasih telah mengantarku pulang kinar.” Ujar Fatimah mengulas senyumnya
“Tidak, tidak aku yang berterimakasih kepadamu Fatimah. Oh iya, bolehkah jika aku bermalam di rumahmu malam ini?” tanya Kinar
“Kamu tidak ingin pulang?”
“Papahku masih di Australia dan mamah sedang dinas luar kota. Jadi please boleeh kan?” Bujukku.
“Masuklah sudah mau magrib.” Fatimah mempersilahkan Kinar masuk dan seketika kinar pun langsung memeluk Fatimah. “Lepaskan kinar badanmu bau keringat.” Ledek Fatimah sambil tersenyum, bermaksud menyuruhnya untuk mandi.
“Ini kamu makan dulu.” Fatimah memberiku sepiring nasi goreng buatan ayahnya. Setiap malam setelah ba’da isya Fatimah selalu membantu ayahnya berjualan nasi goreng di perempatan kompleks. Sahabatku ini hanya tinggal berdua dengan ayahnya. Ibu Fatimah menjadi seorang TKI sejak Fatimah duduk di bangku sekolah dasar dan sampai saat ini ibunya belum juga kembali. Dan kakaknya kini sedang menempuh jenjang perkuliahan di luar kota, itu bukan karena Fatimah dari keluarga berada melainkan karena beasiswa yang didapat kakaknya. Fatimah hidup di keluarga yang sangat sederhana dan taat beragama. Hatiku selalu nyaman setiap ada di tengah-tengah keluarga ini.
“Kinar, habisin kok ngelamun? Gak suka ya? Apa mau pesen fast food?” Tepukan Fatimah menggugurkan lamunanku. “Ah tidak ini sudah enak kok. Kalau aku makan fast food kamu selalu ledekin itu junk food kan?”
“Haha.. ya bagaimana tidak, setiap hari di rumah kamu selalu makan makanan seperti itu. Kinar, dengerin ya. Makanan kaya gitu kurang sehat tau pemoborosan doang.” Fatimah menatapku serius
“Baiklah baiklah, sekarang kau mau bilang aku korban westerninasi lagi? Bosan aku mendengarnya.” Kinar kembali menyuap nasi gorengnya. Dan Fatimah hanya tertawa kecil mendengar ucapan Kinar.
“Fatimah ayuk hang out lagi.” ajakku dengan ekspresi penuh harap
“Apa lagi yang ingin kamu beli? Apa iphone kemarin belum cukup?” desah Fatimah
“Kita banyak PR kan?” Fatimah terus melangkah ke arah parkir sepeda.
“Hmm.. kamu ini. baiklah pulang saja.” Fatimah hanya tersenyum menang melihat raut wajah kinar yang berubah seketika menjadi sangat kecut.
“kamu bermalam lagi di rumahku?” tanya Fatimah sambil mengayun sepedanya.
“hmmm..” desahku dibelakang Fatimah
Sore ini aku dan Fatimah menghabiskan waktu untuk mengerjakan PR sekolah yang buanyaak banget. Tapi aku tidak perah risau, sebab kalau dikerjakan dengan Fatimah PR sebanyak apapun pasti selesai. Fatimah yang selalu mengajariku untuk mengerjakan PR dan ia merupakan siswi terpandai di Madrasah kami. Beruntungnya aku duduk satu meja dengannya.
“Kinar, cepet kerjain itu kaya aku. kamu malah senyum-senyum gak jelas.”
“Haduh kamu ganggu aja lagi ngehayal nih.”
“Kalo ngehayal mulu kapan selesainya.” Fatimah tetap serius dengan tugasnya.
Setelah ba’da magrib tiba-tiba ada seorang kurir yang datang membawa kiriman paket. Dan di paket itu tertulis nama Kinara Aurora. Aku langsung membuka paket itu dengan senangnya “Yey sampai juga untung aku pilih yang paket ekspres jadi sehari langsung sampai.” Ujarku sambil mencoba sepatu baruku.
“Kamu beli sepatu ini kinar? Kemarin?” tanya Fatimah bingung
“Iya, aku beli online kemarin. Uangnya langsung aku transfer via online juga lewat iphone yang kemarin aku beli loh.”
“uang dari ATM kamu?” Aku hanya mengangguk menjawab pertanyaan Fatimah.
“Kinar, lihat harga sepatunya? Bagaimana kalau uangmu habis? Dan papahmu tahu?”
“Tidak apa Fatimah, uang di ATM ini masih sangat banyak tidak akan habis kalau hanya untuk beli sepatu. Lagipula ini kan kepentingan sekolah. Dan ini mode terbaruuu.”
“kamu ini selalu mengikuti mode.” Desah Fatimah melihat tingkah sahabatnya.
Sudah 3 hari aku bermalam di rumah Fatimah. Dan sungguh aku selalu merasakan kenyamanan ketika ada disini. Hari ini sekolah libur, dan Fatimah ikut dengan ayahnya berbelanja keperluan untuk berjualan nanti malam. Karena aku bangun kesiangan, dan sudah terlanjur ditinggal mereka. Aku memutuskan untuk hang out. Dengan meninggalkan sepucuk surat aku bersiap untuk kembali menggesek ATM dan mendapatkan barang-barang dengan mode terbaru.
Berjam-jam lamanya aku berada di Super Grand Mall, tak tak terasa ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 15:00 WIB. Tanganku pun ternyata sudah penuh dengan kantong belanjaan. “Huh.. melelahkan namun menyenangkan.” Ucapku sambil berjalan ke arah food corner. Sebelum kembali ke rumah Fatimah aku memutuskan untuk mengisi perutku yang sudah benar-benar keroncongan ini. “kalau ada Fatimah disini pasti ia bilang ini junk food.” Desahku tersenyum pelan.
Pukul 16:15 tepat aku sampai di rumah Fatimah.
“Assalamu’alaikum..” Sapaku kepada Fatimah dan ayahnya yang sedang mempersiapkan perlengkapan berjualan di gerobaknya.
“Wa’alaikumsalam..” kemudian aku mencium tangan ayah Fatimah.
“Nak kinar darimana? Pulang ke rumah?” dengan lembut ayah Fatimah memperhatikanku.
“Bukan pak, Kinar habis pergi ke mall sebentar.”
“Mall lagi Kinar?” Fatimah tiba-tiba memotong pembicaraanku dengan ayahnya.
“yups, oiya pak ini kinar belikan baju koko buat bapak semoga bapak suka ya.” Ayah Kinar menerima tas belanja itu dengan penuh terimakasih.
“Ini buat kamu Fatimah, mode terbaru loh.”
“Kinar, kamu itu ya.. udah aku bilang kan jangan boros dan jangan kebawa arus westernisasi deh. Liat belanjaan yang kamu beli semuanya glamor. Apa barang-barang mewah kamu masih belum cukup?” Fatimah kali ini nampaknya sudah benar-benar gusar dengan sikap kinar.
“Kamu seharusnya lebih banyak bersyukur dan tidak boros kinar. Ini sikap yang tidak baik. Dan kamu perlu tahu, masih banyak orang yang membutuhkan di luar sana. Lebih bermanfaat jika kamu memberikan sedikit hartamu kepada mereka. Bukan dengan cara seperti ini.” Fatimah kemudian masuk kedalam kamarnya, meninggalkan Kinar dan Ayahnya di halaman rumah.
“Maafkan Fatimah ya Kinar, sebenarnya ia sayang kepadamu makanya ia berkata begitu.” Aku hanya tersenyum kecut melihat Fatimah yang berlalu pergi begitu saja, namun aku juga berfikir kalau apa yang Fatimah ucapkan ada benarnya.
Tiba-tiba handponeku berdering, ternyata bibi yang menelepon dan mengabari bahwa aku harus segera pulang karena papah sudah pulang ke Indonesia. Dengan itu, kemudian aku titipkan barang ini untuk Fatimah kepada ayahnya dan berpamitan untuk pulang tanpa berpamitan dengan Fatimah. Tak sengaja ku lihat sosok Fatimah di tirai kamarnya, “ternyata ia masih mempedulikanku.” Gumamku lalu melajukan motor dengan cepat.
“Ada apa pah?” tanyaku kebingungan melihat papah yang duduk termenung di ruang tamu.
“Usaha kita, perusahaan kita Kinar.” Ujar papahnya dengan nada resah
“Kenapa dengan perusahaan kita pah?” aku kemudian duduk di sebelah papah dengan harap harap cemas.
“Perusahaan kita rugi amat besar dan kita harus menjual semua asset yang kita miliki, rumah mobil semuanya.” Ucapan papah membuat aku shock, benar-benar shock.
“Lalu kemana mamah?” mataku mulai lembab oleh air mata.
“entahlah Kinar tidak ada yang bisa menghubungi mamah. Nomornya selalu tidak aktif dan pihak kantor pun tidak tahu keberadaan mamah, seperti merahasiakan sesuatu dari papah.” Aku tak dapat berbicara apapun lagi, air mata ini mulai menetes.
“Papah akan mengurusi semua masalah ini, dan kamu bersiap kemasi barang-barang kita akan angkat kaki dari sini.”
“Kita akan kemana pah? Apartemen?” Aku menggenggam lengan papah yang berusaha bangkit meninggalkan sofa.
“tidak, semua apartemen harus kita jual Kinar. Kita akan mengontrak sebuah rumah kecil saja.”
Semenjak hari itu, aku dan papah hanya tinggal berdua di sebuah kontrakan kecil. Semua barang mewah yang dulu aku miliki kini habis terjual. Pekerjaan papah pun kini hanya menjadi tukang sol sepatu keliling. Dan semenjak kejadian itu pula sampai saat ini aku belum berani kembali ke sekolah. Bahkan Fatimah pun mungkin sudah enggan bersahabat denganku.
“Penyesalan selalu datang di akhir.” Semakin hari kantung mataku kian membesar karena setiap hari aku hanya mengurung diri di kamar dan tidak ingin bertemu dengan siapapun termasuk papah. Aku tidak makan dan tidak minum, sungguh miris jika melihat keadaanku saat ini.
“Kinar ada di kamar kau mau masuk ke dalam?”
“Tidak om, terimakasih aku tak ingin menggangu istirahatnya. Fatimah minta tolong sampaikan kepada Kinar bahwa Fatimah menunggunya di kelas.”
Aku seperti mendengar suara itu, iya suara Fatimah. Aku membuka sedikit pintu kamarku dan mengintipnya dari balik daun pintu. Air mataku menetes lagi. Sungguh Fatimah memang sahabat terbaikku. Ternyata ia tidak marah kepadaku, ia mengantarkan dua bungkus nasi goreng ayahnya untukku dan papah. “Aku menyesal ya Allah, menyesal selalu menghiraukan ucapan sahabatku..” Aku kembali menutup pintu dan duduk tertunduk di baliknya.
Hari-hariku masih sama seperti kemarin, sudah sekitar 2 minggu aku tidak masuk sekolah. dan 2 minggu pula setiap malam Fatimah selalu datang ke rumah untuk mengantarkan nasi goreng buatan ayahnya. Namun, Fatimah selalu tidak mau bertemu aku. Dia selalu berkata tak ingin mengganggu istirahatku, itu yang kudengar dari dalam kamar kalau Fatimah berbincang dengan papahku.
Malam ini, aku berniat untuk bertemu Fatimah dan menunggunya datang seperti malam-malam sebelumnya.
“Assalamu’alaikum.” Aku membuka pintu dan aku melihat raut wajah Fatimah yang terkejut ketika mendapati aku yang membukakan pintu untuknya.
“Wa’alaikumsalam, Fatimah.” Aku mengulas senyum kepadanya. Kelopak mata Fatimah seketika berkaca-kaca dan ia langsung memelukku dengan erat, sangaat erat.
“Maafkan aku Fatimah, aku menyesal.” Isakku di pelukannya.
“Tidak Kinar, tidak. Kau tidak perlu minta maaf kepadaku. Ini semua cobaan dari Allah.” Fatimah mengelusku dan mencoba menenangkanku.
“Apa kau tidak membenciku?” Aku melepaskan pelukannya dan menatap bola matanya dalam-dalam. Fatimah hanya tersenyum teduh dan berkata “tidak ada alasan untukku, alasan untuk membencimu.”
“Ingat Kinar, Allah akan menambah nikmat hambanya jika hamanya pandai bersyukur.”Kemudian Fatimah kembali memelukku.
“Kembalilah ke sekolah besok, aku dan semua teman-teman menunggumu.”
Hari ini aku putuskan untuk kembali ke sekolah dan kembali menjalani hari-hariku seperti biasa. Namun, dengan suasana bernbeda tentunya. Mulai hari ini aku sadar bahwa hidup sederhana dan apa adanya lebih baik daripada selalu resah dengan perkembangan mode yang tak pernah ada habisnya. Hidup ini bukan hanya antara aku dan fashion namun juga tentang menghargai dan saling peduli.
Kini aku dapat merasakan apa yang selalu Fatimah bilang tentang nasib orang-orang yang lebih susah dariku dulu. Semua berjalan beriringan dan harus selalu berkesinambungan, tidak berat sebelah dan tidak juga melupakan satu hal, BERSYUKUR meskipun hanya nikmat seujung kuku.
“Kinar, ayuk dimakan kok ngelamun sih? Masa yang ulang tahun malah ngelamun. Ooh aku tahu, ngelamunin umur yang makin tua yaa?” Fatimah menggugurkan lamunanku di masa lalu, masa lalu yang banyak mengajarkanku arti kehidupan hingga sekarang aku bersyukur dapat mengerti arti perjuangan meskipun sedikit terlambat, namun Fatimah selalu bilang “tidak ada kata terlambat untuk berubah.”
“Kinar!! Tuh kan malah liatin aku. Kamu apaan sih bikin aku salah tingkah.” Aku hanya tersenyum menyadarkan diri.
“Ehehe.. enggak kok, aku cuma bersyukur aja karena kamu selalu ada buat aku dari dulu, sampai sekarang. Terimakasih ya Fatimah, kamu udah ajarin aku banyak hal mulai dari hal kecil sampai besar.”
Seperti biasa Fatimah hanya mengulas senyum manis nan teduhnya.
“Sama-sama Kinar, kau itu sahabat terbaikku. Aku tidak ingin kau menyesal nantinya, aku juga bersyukur kau banyak belajar.” Aku pun memeluk erat Fatimah.
“Boleh aku nambah? Cacingku masih demo nih?” ujar Fatimah membuatku tertawa kecil.

aku yang tersakiti

Alfi dan Agas adalah seorang sahabat mulai dari kecil. Mereka selalu bersama dalam suka maupun duka. Namun perasaan persahabatan berubah menjadi rasa cinta ketika Alfi mencintai atau memiliki perasaan lebih dari sahabat kepada Agas.
Suatu hari di SMA tempat Alfi dan Agas bersekolah, kedatangan siswa baru, dia bernama Ayunda atau yang biasa dipanggil Ayu. Dan pada saat itulah cerita cinta segitiga dimulai.
Ayu mendapat kelas XI Ipa 1 dimana Agas dan juga Alfi menempati kelas tersebut.
“Eh, nanti di kelas kita ada siswa baru loh!” ucap Gilang kepada Agas yang tengah duduk sambil menulis tugas.
“Siapa?, Cewek atau cowok?” tanya Agas pada Gilang.
“Dia cewek, namanya Ayu. Dia orangnya cantik banget.” jawab Gilang.
“Terus kalau cantik, kenapa?” tanya Agas cuek
“ya… kalau cantik bisa aja lo suka sama dia.” ucap Gilang
“kan bisa jadi.” jawab Agas sambil tersenyum kecil.
“Hai bro, lagi pada ngomongin apa sih, serius banget.” suara Alfi dengan gaya tomboynya langsung memecahkan suasana ketenangan.
“Apa sih, dateng dateng langsung nyamber aja.” ucap Gilang
“Biarin, wleee.” ucap Alfi sambil menjulurkan lidahnya.
“Ini, kata Gilang bakal ada siswa baru, perempuan.” jelas Agas pada Alfi
“Owh… gitu ya.” Alfi mengangguk mengerti.
Bel masuk pun berbunyi dan Agas, Alfi, dan juga Gilang bergegas masuk ke kelas. Ternyata benar, ada siswi baru datang ke sekolah mereka dan masuk ke kelas Agas dan Alfi. Saat siswi itu masuk ke kelas, mata Agas tak berpaling dari siswi itu. Semua perkataan Gilang benar, Agas terpesona dan suka pada Ayu (siswi baru tersebut).
Pada saat jam istirahat, Agas mengajak Alfi ke taman untuk membicarakan sesuatu. Hati Alfi langsung gembira, dia kira Agas pasti akan membicarakan atau mengutarakan perasaannya ke Alfi.
Di taman bagas langsung bicara tanpa basa basi.
“Fi, gue suka sama Ayu.” ucap Agas yang membuat hati Alfi bagai disambar petir dan didera hujan deras disertai badai. Orang yang baru Alfi Cinta, justru mencintai wanita lain.
“Terus ngapain lo bilangnya ke gue?” tanya Alfi gugup
“Gue mau lo jadi mak comblang gue lagi.” jelas Agas
“huftt…. gue udah tebak.” jawab Alfi dengan menghela nafas.
“Please mau ya Fi?” Agas memelas pada Alfi
“ya deh, lagi pun bukan sekali ini aja gue jadi mak comblang lo, tapi udah berkali kali.” ucap Alfi
Sakit, sakit yang Alfi rasakan. Orang yang ia cintai justru meminta tolong untuk didekatkan dengan wanita lain.
Setelah beberapa cara dilakukan oleh Alfi untuk mendekatkan Agas dan Ayu akhirnya, Ayu dan Agas bisa bersatu menjadi sepasang kekasih. Kini Alfi harus melihat kemesraan dari orang yang sangat ia cintai bersama wanita lain. Sakit, karena cinta, ia tersakiti. Kini Alfi hanya bisa menahan sakit dan pedih yang ia rasakan.
Saat ingin berangkat sekolah, tiba tiba keluar darah dari hidung Alfi dan Alfi pun terjatuh pingsan. Kini Alfi harus ke rumah sakit. Setelah Alfi tersadar dari pingsannya dan setelah mendapat penjelasan dari dokter, ternyata Alfi divonis terkena kanker darah. Penyakit yang ia derita telah stadium 4. Dia harus menjalani Kemoterapi tetapi Alfi menolak.
Seminggu telah berlalu, kini Alfi sudah masuk sekolah seperti biasa. Saat di perjalanan pulang sekolah, Alfi melihat Ayu sedang bermesraan dengan pria lain. Alfi tak tinggal diam, dia langsung bilang semuanya ke Agas tetapi Agas tak mempedulikannya. Dia malah memaki dan memarahi Alfi habis habisan. Agas telah menyakiti hati Alfi karena telah memutuskan tali persahabatan mereka dan Agas mengembalikan gelang couple yang pernah Alfi buat. Kini lengkap sudah rasa sakit yang Alfi rasakan.
Alfi kembali masuk rumah sakit. Kini badan tomboynya tergeletak lemas di atas kasur rumah sakit dan hidungnya harus dipakaikan selang oksigen.
Agas datang ke rumah sakit dan meminta maaf pada Alfi atas kata kata kasar yang pernah Agas ucapkan pada Alfi, karena semua yang Alfi katakan ternyata benar. Ayu telah berselingkuh di belakang Agas.
“Alfi maafin gue, karena gue udah nyakitin lo.” Agas tertunduk dan menangis
“Gue udah maafin lo kok, Gas.” balas Alfi langsung terbangun dari komanya
“Gue gak pernah sekalipun marah sama lo Gas. Semua yang lo lakuin ke gue, gue terima dengan lapang dada karena gue cinta banget sama lo.” lanjut Alfi
“Mungkin ini saatnya gue pergi, karena gue udah nyatain betapa gue cintanya sama lo Gas. Thanks buat semuanya, Thanks buat semua rasa sakit yang udah lo berikan ke gue. Dan gue juga minta maaf karena setelah ini gue gak bisa lagi jadi mak comblang lo Gas. Thanks and i love you Agas.” kata kata terakhir yang Alfi ucapkan ke Agas.
“Alfi jangan tinggalin gue sendiri, Alfi…” Agas teriak dan menangisi kepergian Alfi.
Setelah pemakaman Alfi selesai, Agas masih betah di temani batu nisan bertuliskan nama CAMELIA DWI ALFIYA.
“Alfi, sekali lagi maafin gue. Gue udah nyakitin lo dan gak peka sama perasaan lo. Dan makasih udah mau jadi sahabat juga mak comblang gue yang baik selama ini. Makasih, makasih banget. Thanks so much and i love you too Alfi.” kata kata Agas untuk Alfi sebelum meninggalkan makam Alfi.
Kini tak ada lagi gaya tomboy Alfi. Tak ada lagi kata kata ramah dari mulut Alfi. Dan juga tak ada mak comblang Agas lagi karena, Alfi telah nyaman bersama Allah SWT. di atas sana.
THE END

paper

‘Kau tahu kertas? Jika sudah diremas takkan bisa utuh lagi. Jika sudah terkoyak takkan bisa kembali seperti semula lagi. Begitu juga denganku, aku menyesal karena sudah menyia-nyiakanmu. Aku menyesal tak menyadari aku juga mencintaimu, aku juga menyesal karena tak bisa melihat ketulusan hatimu dalam mencintaiku. Aku menyesal.’ – Alwan Prayudha.
11 Juni 2014
Ve Rosaline menatap Alwan yang kini berada di hadapannya. Dengan seorang gadis. Alwan yang melihat Ve mulai menyuruh gadis itu pergi. Lalu Alwan menghampiri Ve yang terdiam menyaksikan adegan mesra tadi.
“Hei! Sejak kapan lo di sini?” Alwan memandang Ve dari atas sampai bawah, Ve memakai rok merah selutut, dan baju lengan panjang berwarna biru. Ve tersenyum simpul. Ve adalah pacar Alwan, dia sangat mencintai Alwan, bahkan sampai rela diduakan oleh Alwan yang nyatanya seorang playboy.
“Sejak tadi. Sibuk?” Tanya Ve dengan suara tercekat.
“Yaa seperti yang lo lihat.” Alwan kemudian duduk di bangku yang ada di sampingnya. Gadis di hadapannya ini adalah gadis yang dipilih oleh mamanya untuk menjadi kekasih sekaligus pendamping hidupnya.
Meskipun cantik, tapi Alwan tidak tertarik dengan gadis ini. Alwan tahu bankan sangat tahu kalau Ve sangat mencintai dirinya.
“Inget gak ini hari apa?” Alwan memandang Ve remeh. Terkesan merendahkan. Lalu terkekeh.
“Ini hari Kamis. Kenapa?” Ve menunduk lesu. Lalu dia menggeleng kemudian pergi. Alwan yang tidak mengerti bergidik sendiri karena bingung.
‘Sampai kapan aku bertahan? Sampai kapan aku nunggu kamu buat mencintai aku? Jujur aku lelah, melihatmu tak peduli denganku membuatku lelah mencintai. Bahkan kamu lupa ini hari ulang tahun aku.’
Ve menunduk dengan tangisannya, ia seolah ingin melupakan seluruh hari yang dijalaninya. Ia lelah, sangat lelah. Lalu sebuah tangan laki-laki memberinya sapu tangan.
“Nih, hapus air mata kamu. Jelek tahu gak.” Ucapnya, Ve mengangkat kepalanya dan mendapati Mike berada di hadapannya.
“Mike…” lirih Ve.
“Tumpahin semuanya di pundak aku.” Ucap Mike sambil menepuk-nepuk pundaknya. Dan seketika Ve menghambur ke pundak Mike. Menumpahkan tangisannya di sana dengan semua kesakitan batin yang selama ini dipendam sendiri olehnya.
‘Andai saja kamu tahu aku di sini nunggu kamu. Tapi cinta membutakan kamu buat tetap nunggu Alwan.’ Lirih Mike dalam hati. Hatinya sebenarnya terkoyak melihat gasis Yang dicintai menangisi pria Yang bahkan selalu menyakitinya. Dia mencintai gadis ini sepenuhnya. Tapi gadis ini malah memilih lelaki yang jelas-jelas telah membuatnya sakit hati.
Kemudian tanpa sengaja Alwan melihat adegan itu. Dia mematung, darahnya seketika beku. Dan entah mengapa ia merasa sesak melihat Ve yang terlihat seolah memeluk Mike. Sesak?
‘Kok gue nyesek gini ya? Nyesek gara-gara ngeliat mereka. Kok bisa?’ Alwan berusaha menepis semua perasaan anehnya kemudian berlalu meninggalkan mereka dengan ketusnya.
Mike membujuk Ve agar makan. Sungguh, gadis ini terlihat sangat pucat. Ia bahkan menolak semua makanan dan menolak diajak ke dokter oleh Mike. Mike sampai kehabisan akal agar Ve mau mendengar bujukannya.
‘Alwan, ya Alwan.’
Mike merogoh saku kantung celananya. Mengambil ponselnya lalu menelpon seseorang. Dia agak sedikit menjauh dari Ve.
“Ngapain lo telepon?”
“Ve sakit, dan dia gak mau makan sama sekali.”
Alwan terdiam sebentar merasakan sesak yang kembali menelusup dalam dadanya yang bidang. “Terus, urusannya sama gue apa?”
“Lo emang gak punya hati ya! Kali ini gue minta tolong dengan sangat sama lo, please lo ke rumah Ve sekarang dan bujuk dia supaya makan.”
“Huh… 10 menit lagi gue sampai!”
Alwan mematikan telepon sepihak. Mike sedikit lega karena Alwan mau datang membujuk Ve. Mike menatap Ve yang pucat pasi dan… sangat lemas.
“Ve makan ya. Nanti kamu tambah sakit.” Ve menggeleng lemah kemudian menutup sebagian wajahnya dengan selimut kuning miliknya.
Suara pintu itu berhasil mengalihkan pandangan Mike dan Ve Yang tertutup selimut. Sepintas Ve tersenyum tipis.
“Ve lo sakit? Udah makan?” Mike yang melihat keduanya pergi meninggalkan ruangan. Meninggalkan mereka berdua.
Ve hanya bisa diam, berusaha menekan perasaan gugupnya dengan susah payah. Mengapa Alwan tiba-tiba perhatian padanya?
“Nih gue bawain lo bubur. Lo belum makan kan? Gue suapin dah.” Alwan membuka bungkusan tersebut. Lalu mulai menyuapi Ve dengan, tulus.
Ia tersenyum menatap Ve yang melahap makanannya. Kenapa sekarang ia jadi sering takut kehilangan Ve? Why?
14 Juni 2014
“This’s my destiny. This’s my destiny.” Ve mengucapkan kata-kata itu berulang kali. Entah kenapa.
“Ve kamu kenapa?” Ia berbalik menatap Mike, lalu menggeleng plan Dan tersenyun berusaha meyakinkan Mike bahwa ridak terjadi apa-apa.
“Kalau ada masalah cerita aja ya sama aku. Jangan dipendam.” Ucap Mike kemudian tersenyum.
‘Aku yang mengagumimu dalam diamku. Tak pernah kau tahu aku sangat mencintaimu lebih dari sekadar sahabat.’

karena dia melanggar prinsipku

Sulit rasanya jika harus pura-pura tidak mencintai. Aku menyukainya dari pertama aku melihatnya. Tapi rasa cinta itu hanya aku yang tahu karena prisipku dan janjiku kepada diri sendiri bertolak belakang dengan gadis itu dan gadis itu juga telah banyak melanggar prinsipku.
Hari itu, kami siswa baru SMAN 1 ****** sedang mengikuti MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah) aku berada di gugus 6. Di hari terakhir MPLS itu adalah waktunya kreasi seni dari tiap gugus. Gugus kami akan menampilkan puisi berantai yang ditampilkan oleh 5 orang. Aku sebagai Pak Ustadz di puisi itu, isinya menyangkut tentang soal-soal keagamaan. Aku giliran pertama membaca sepenggal puisi yang memiliki banyak majas. Setiap gugus mempunyai barisan masing-masing dari gugus 1-12. Aku melihat mereka semua dari depan, yang menjadi pusat perhatianku adalah seorang gadis yang berada di gugus 3, dia duduk di barisan kedua. Gadis itu berbeda dengan yang lain, dia memperhatikan dengan fokus penampilan gugusku sedangkan yang lain ada yang mengobrol ataupun memainkan handphone. Aku tertarik dengan gadis itu, dia tidak cantik tapi menarik perhatianku.
17 Agustus 2015
Aku mengikuti ekstra kulikuler PASKIBRA, kami akan mengikuti upacara dengan mengenakan kaos putih pendek, celana hitam dan aksesoris lainnya. Mungkin temanya adalah perjuangan, karena kami membawa tongkat yang terbuat dari kayu sebagai tombak. Kami kumpul di sekolah. Aku melihat gadis itu, dia berada di barisan ekstra KIR (Kelompok Ilmiah Remaja) dia juga terlihat melihat ke arahku. Citra teman satu ekstraku memanggilku, citra satu kelas dengan gadis itu.
“Doni!” Panggil citra. Aku pun menengok ke arahnya
“Apa cit?” Tanyaku
“Ada yang suka sama kamu.”
“Siapa?” Tanyaku kembali
“Namanya dina, dia adalah teman sekelasku. Tuh dia yang memakai jam tangan warna ungu di barisan ekstra KIR.” Citra menunjuk gadis yang aku sukai itu.
“oh, itu” ucapku.
Aku senang, tapi gadis itu telah melanggar prinsipku. Prinsip hidupku, aku tidak ingin seorang wanita yang duluan berbicara kepada aku kalau dia suka, menurutku wanita yang seperti itu adalah wanita payah, yang harus dilakukan wanita hanyalah menunggu.
Pelanggaran yang dilakukan semakin besar, dia meminta pin BBku kepada citra. Lalu dia invite, aku tak acc karena “iugghh” rasanya jika seorang wanita yang menginvite duluan. Tapi temanku citra malah mengacc nya. Ada cinta ada pula kecewa, dia sungguh tak malu melakukan itu.
Dia follow akun Instagram milikku. Tak diminta pun aku akan memfollbacknya tapi tak lama dia coment di fotoku “follbck” dia hanya perlu menunggu sebentar saja tapi dia malah melakukan itu. Aku pun memfollback akunnya. Jujur saja di bbm aku selalu memperhatikannya begitupun di instagram aku suka melihat foto-fotonya, dia seperti anak kecil. Dia pendek, aku suka gadis pendek, karena aku tinggi.
Tingkahnya semakin melanggar prinsipku itu, dia bm aku duluan sok-sokan nanyain pelajaran lah, apalah, dan yang membuatku sangat kecewa dia bertanya lewat bbm “don, udah punya pacar?” Tanyanya. Aku kadang berfikir buruknya dia, apa hanya kepadaku atau kepada laki-laki yang dia sukai sebelumnya juga begitu. Temanku pernah melihat dia meletakan ponselnya di kaca kelasnya ketika aku berada kantin, dia memotretku. Pelanggarannya sangat banyak, tapi aku tetap menyukainya bahkan aku sangat mencintainya.
11 februari
Itu adalah hari ulangtahunku, aku bangun pagi hari. Data selular di handphone tidak kuhidupkan, sengaja malam hari aku tidak menghidupkannya, karena itu membuat sisa kuotaku terus terkuras. Aku membuka bbm, banyak ucapan selamat ulang tahun. 00:00 dina mengucapkan selamat ulang tahun kepadaku. Aku bahagia, sangat bahagia. Kadang aku salut kepada dia, dengan keberaniannya itu. Aku hanya membuka pesan itu tanpa membalasnya, aku bingung harus bagaimana menjawabnya. Di line, facebook pun dia mengucapkannya. Dialah orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun untukku di usiaku yang ke 16 ini. Saat jam istirahat aku membalas ucapannya itu “makasih” balasku, aku menunggu cukup lama, 3 jam kemudian dia membalasnya “sama-sama.”
Tingkahnya semakin menunjukan kalau dia sangat menyukaiku, aku merasa malu ketika dia memperhatikanku di manapun. Hampir setiap hari, kurang lebih satu bulan motor kami selalu berdampingan. Ketika aku melihat motornya terparkir dan di sisinya belum ada motor yang lain, Aku segera meletakan motorku itu. Ketika motornya belum terparkir yang artinya dia belum datang, tapi waktu pulang sekolah motornya ada di samping motorku. Mungkin dina melakukan hal yang sama sepertiku.
Temam-temanku meminjam handphoneku, aku pun memberikan handphoneku itu. Mereka melihat kontak bbm dina serta melihat apa saja yang dina katakan kepadaku. Salah satu temanku berkata “najiss banget si dina berani nanya udah punya pacar segala, murahan ihhh.” Aku pun berfikir hal yang sama, tapi rasanya tak enak jika ada orang lain menyebutnya. semua teman sekelasku tahu tentang dina, berita itu pun terus menyebar. Aku merasa bersalah telah membuat nama baiknya sedikit tercoreng, walaupun sedikitnya perkataan mereka ada benarnya juga. Aku sendiri mengerti apa yang ia rasakan, tapi dia tidak menunggu seperti yang aku harapkan. Mungkin dina sudah mendengar berita jelek tentang dirinya itu, aku dapat melihatnya. Dia memandangku dengan berkaca-kaca ketika kami duduk di lapang basket pada hari jumat, karena diadakan kultum. Dia terlihat sangat sedih, biasanya dia terlihat ceria dan tersenyum tapi aku bisa melihat matanya yang bersinar karena menahan air mata yang akan segera menetes. Untuk pertama kalinya aku menatapnya, tapi dia memalingkan pandangannya. Aku tahu apa yang dia rasakan, dia malu, imagenya sangatlah buruk.
Hari itu aku pulang sore, karena aku sudah diklat PASKIBRA. Lalu handphoneku berbunyi, ada BBM yang masuk itu dari dina, isi bbm itu adalah “saya minta maaf atas ketidaknyamanan yang sudah saya berikan selama ini. Tentang keingintahuan saya tentang anda atau tentang hal lainnya. Jangan membenci saya ya, saya hanya ingin jadi teman anda.” Terlihat di atas layar handphoneku itu, aku ingin membalasnya, tapi bagaimana? Aku tidak membalasnya. Tak lama kontak bbm dina tak ada, dia menghapus kontakku. Aku merasa sedih, tapi sudahlah itu sudah terjadi.
Hari berganti hari, aku jadi merindukan celotehan-celotehannya di BBM tentang perasaannya terhadap diriku. Bel pulang sudah berbunyi, tapi aku harus mengerjakan tugas kelompokku terlebih dahulu. Jam menunjukan pukul 15:17 tugasnya sudah selasai, aku pun segera memasuki tempat parkir. Lalu ada yang memanggilku “doni!!” Teriaknya. Seorang gadis, dia adalah teman dina. Aku pun menaikkan alisku, dia mendekat dan berkata “heh doni, jangan sok ganteng deh lo. Kasian si dina, bisa kan lirik sedikit dina kami itu!” Ucapnya yang terlihat sedikit marah. Aku hanya mengangguk dan tersenyum. Lalu temannya itu meninggalkannku. Aku semakin merasa bersalah kepadanya, aku sungguh jahat.
Aku mencintainya, tapi dia melanggar prinsipku. Sungguh, rasa ini hanya aku yang tahu, hanya aku. Maafkan aku kasih. Aku sudah banyak menyakitimu. Tapi aku sangat mencintaimu, kita tidak bisa bersama itu karena dirimu sendiri yang melanggar prinsip dalam hidupku.

manusia bodoh

Malam makin larut ketika Delita ke luar dari kantornya. Pekerjaannya harus dikerjakan ekstra jika ingin dapat persetujuan cuti agar bisa berlibur bersama suami dan anaknya akhir pekan ini.
Baru saja mengeluarkan handphone hendak menelepon suaminya agar menjemput, matanya menangkap sosok yang berjalan tergesa-gesa ke arahnya.
“Delita!” suara parau itu menyebut namanya ketika dekat.
Butuh waktu beberapa saat Delita mengenali sosok yang ada di depannya.
“Farly? Ngapain kamu di sini?” tanyanya pada mantan pacarnya 5 tahun lalu.
“Aku baru pulang dari Prancis. Dan aku akan bekerja di Jakarta. Barusan aku lewat sini dan lihat kamu. Baru pulang ya? Aku antar kamu pulang bagaimana?” tawar cowok bertubuh tinggi itu.
“Nggak perlu, makasih. Aku mau telepon suamiku untuk jemput aku,” kata Delita dingin.
“Sekalian aja aku yang antar. Aku ingin berkenalan dengan suami kamu”
Delita menatap Farly, sinis. “Untuk apa?”
“Walau kita sudah lama putus, tapi aku tetap ingin berteman baik sama kamu, Ta. Untuk itu, aku boleh dong kenalan sama keluarga kamu?”
“Ow begitu? Setelah kamu pergi gitu aja dan akhiri hubungan kita yang udah berjalan sejak kita SMP?” Delita mendengus dan mengeluarkan handphone. “Makasih sebelumnya. Tapi udah nggak perlu. Lebih baik aku minta jemput suamiku.”
Farly menahan tangan Delita, yang langsung ditepis kasar.
“Apa-apaan sih kamu?! Jangan coba-coba sentuh aku lagi.”
“Aku cuma mau bicara sama kamu, Delita… please kasih aku waktu sebentar aja.”
“Udah nggak ada lagi yang perlu kita bicarakan, Farly! Aku harap kamu pergi, dan jangan ganggu kehidupanku lagi!” bentak Delita parau, karena menahan tangis.
“Tapi, Ta…”
“Mama!” Suara riang anak kecil membuat mereka menoleh dan melihat seorang gadis kecil berlari ke arah mereka memakai payung mungil.
“Keila…” Delita langsung menggendong gadis kecil itu. “Kok Keila ada di sini?”
“Tadi Papa ngajak Keila jemput Mama. Soalnya udah malem,” jawab Keila sambil memandang Farly. “Om ini siapa, Ma?”
Farly menatap Keila tanpa kedip. Ada perasaan aneh yang menyusup ketika melihat mata anak itu. Mendadak jantungnya berdebar.
Baru Delita hendak menjawab, terdengar suara memanggilnya.
“Mama.. Keila!”
“Papa…!”
Delita terlihat pucat pasi ketika lelaki bertubuh tinggi yang merupakan suaminya itu mendekatinya.
“Keila ngotot ingin ikut jemput Mama.”
Farly terkejut setengah mati melihat lelaki yang berdiri di depannya.
“Farly?!”
“Zirqi?!”
Mereka saling pandang beberapa saat.
Farly memandang Delita dan Keila, lalu mengalihkan pandangan kepada Zirqi, sahabat lamanya, yang ternyata suaminya Delita.
“Kenapa mesti Zirqi sih, Ta?!”
“Apa urusan kamu sih, Far?! Aku mau menikah dengan siapa pun bukan urusan kamu!”
“Tapi dia itu sahabatku dari kecil! Kenapa kalian bisa menikah?! Atau jangan-jangan semasa kita pacaran dulu kalian udah ada hubungan?”
“Farly, apa pun yang terjadi di masa lalu, aku udah nggak peduli! Dan sekarang, kamu nggak berhak ngatur hidup aku! Karena kamu bukan siapa-siapa aku lagi!”
“Tapi kenapa mesti Zirqi orangnya?!” Farly kalap, tiba-tiba teringat Keila. Tatapan mata gadis kecil itu bercahaya menatapnya. “Keila? Apa sebenarnya dia itu…?”
“Kenapa dengan Keila?” bentak Delita. “Ini semua nggak ada hubungannya dengan Keila. Jangan bawa-bawa dia!”
Farly teringat ketika dia akan berangkat ke Prancis, Delita menangis padanya ingin mengatakan sesuatu namun Delita hanya menangis tanpa bicara.
“Aku merasa dekat sekali dengan Keila, ini perasaan yang aneh dan nggak bisa aku pungkiri kalau aku sayang sekali pada Keila. Apa jangan-jangan dia itu…?”
“Keila itu anak kandung lo, Farly!”
Delita dan Farly terkejut dengan kedatangan Zirqi tiba-tiba.
Zirqi turun dari tangga dan berdiri menghadap Farly, serius. “Feeling lo nggak salah. Wajar lo langsung sayang liat Keila. Dia putri kandung lo.”
“Papa!” sentak Delita sambil menoleh ke atas arah kamar Keila.
“Tenang aja, Keila udah tidur. Kita selesaikan tanpa melibatkan dia.” Zirqi memandang Farly, tajam.
Farly terpaku, tubuhnya gemetar. “Ja-jadi… Keila anak gue?”
“Enggak!” seru Delita marah. “Kamu bukan siapa-siapa Keila!”
“Ma… sabar ya, biar Papa yang selesaikan,” kata Zirqi menenangkan lalu menatap Farly kembali. “Beberapa hari setelah lo pergi ke Prancis, Delita datang ke gue. Lo sama sekali nggak tau apa pura-pura nggak tau kalo Delita hamil anak lo? Tapi percuma sekarang gue tanya itu. Udah nggak ada gunanya. Untuk nebus kesalahan lo, gue memutuskan bertanggung jawab atas bayi yang dikandung Delita. Gue nikahin Delita. Dan mendampingi dia melahirkan Keila. Pertama gue denger tangisan Keila, gue langsung jatuh cinta. Dia itu belahan jiwa gue, walau tiap gue peluk Keila, yang ada di benak gue itu ayah kandungnya yang nggak bertanggung jawab! Gue bener-bener kecewa sama lo, gue pikir lo bisa jaga Delita, bertahun-tahun kalian pacaran, setelah dia hamil lo malah ninggalin dia gitu aja.”
“Zirqi…” Farly berusaha menjelaskan, kalap. “Waktu itu gue nggak ada pilihan lain. Lo tau kan gue susah payah dapetin beasiswa S2 d Prancis. Ya lo bener, gue memang pura-pura nggak tau tentang kehamilan Delita. Waktu itu gue panik. Gue pengen ngebanggain keluarga gue, dan kalau sampai gue lepasin beasiswa itu dengan menikahi Delita, keluarga gue pasti kecewa banget sama gue. Karena gue ini satu-satunya anak laki-laki di keluarga. Gue nggak mungkin bikin malu keluarga gue.”
Delita menangis mendengar penjelasan Farly. “Apa gunanya sekarang kamu jelasin ini, Far? nggak cukup kamu nyakitin aku dulu? Aku harus menanggung ini semua sendirian. Kalau saja tidak ada Zirqi, aku nggak tau gimana hidupku sekarang.”
“Delita, aku bener-bener minta maaf! Apa yang harus aku lakuin supaya kamu maafin aku?” mohon Farly.
“Simpel aja…” Delita menyeka air matanya, dan menatap tajam lelaki itu. “Jauhi keluarga aku! Jangan pernah ganggu kami lagi. Terutama Keila.”
“Tapi…” Farly keberatan. “Keila kan anakku juga.”
“SETELAH KAMU CAMPAKKIN AKU GITU AJA, SEKARANG KAMU NGERASA BERHAK ATAS KEILA?!! JANGAN MIMPI KAMU BISA REBUT DIA DARI AKU! DIA MILIKKU!!” teriak Delita, kalap. Zirqi langsung memeluk bahunya.
“Sabar, Ma… jangan sampai Keila terbangun dan dengar pembicaraan ini.”
Farly mematung, wajahnya pucat.
“Sory, Far… mungkin lo memang ayah biologisnya Keila. Tapi secara hukum yang sah, dia itu anak gue dan Delita. Lo nggak punya hak atas dia. Sampai kapan pun gue akan perjuangkan Keila. Gue nggak akan biarin lo rebut Keila. Dan jangan pernah lo usik keluarga gue lagi. Mungkin dulu kita bersahabat baik, tapi gue tau nggak gampang untuk Delita lupain kesalahan lo. Maka dari itu, jangan pernah lo muncul lagi di hadapan gue dan keluarga gue. Terima konsekuensi keputusan lo yang pengecut dulu!”
Setelah berkata begitu, Zirqi menutup pintu rumahnya, membiarkan Farly mematung di depan rumah, dengan tubuh terguyur air hujan.
Menyesali yang telah terjadi di masa lalu.
Menyadari dirinya adalah manusia terbodoh.
Karena kesalahannya, kini dia harus kehilangan tiga orang berharga dalam hidupnya.
Sahabat, kekasih, dan buah hatinya.
Keputusan di masa lalu, akan kita dapat balasan atau konsekuensi di masa mendatang.
Maka berhati-hatilah mengambil keputusan!

lika liku cinta

Diusiaku yang sudah menginjak usia ke-25, saya sudah mulai panik mengenai siapa jodoh saya nanti, siapa yang mampu diajak berjuang bareng mengarungi warna-warni kehidupan yang tidak mudah ini. Dalam kepanikanku aku mulai berusaha untuk menemukan sang tambatan hati dengan berdo’a, bernadzar, dan mulai merubah sikap yang tadinya jutek sekarang menjadi ramah walaupun rada kaku.
Sehabis sembahyang lima waktu aku selalu tidak lupa untuk memohon, Ya Allah aku mohon kepadaMU tolong segera pertemukan aku dengan jodohku, entah itu baik ataupun buruk aku bersedia meneriamanya karena saya sadar kalau saya juga bukan sosok laki-laki yang sempurna.
Hari demi hari silih berganti, rutinitas nyari duit terus berjalan, lantunan do’a pun terus terucap walaupun kadang putus asa, dikala aku putus asa aku selalu pasrah, kenapa jodohku tak kunjung datang? Jiwa ini mulai bangkit ketika menengok ke sekitar, banyak orang yang lebih tua dariku juga masih banyak yang belum menikah, ada juga yang sudah menikah tapi tidak lama malah pisah-pisahan.
Di suatu hari disaat aku putus asa dan pasrah habis misya’ di rumahku ada tamu, obrolan demi obrolan telah dilontarkan antara bapakku, ibuku dan tamu tadi sambil makan sajian seadanya, saya hanya dengar obrolan meraka dengan samar-samar dari depan TV ternyata tamu tersebut bermaksud menjodohkanku dengan keponakannya. Setelah obrolan demi obralan terlontar di antara mereka, tamu tadi pamit pulang bersalaman dengan bapak, ibu dan saya.
Setelah tamu pulang ibu ngomong kepada saya “nak kamu mau ndak dijodohkan dengan Laili? Anak tunggal dari bapak Bandi dan ibu Karomah,” saya sebelum menjawab mikir dulu, apakah ini jawaban dari do’a ku? “gimana nak?” Kata ibu, saya menjawab “hemm Laili itu pacarnya Saiful kok bu, teman saya yang sering main kesini dan sekarang lagi sakit kanker,” ibu menjawab “OOO ya udah terserah kamu kalau gitu, katanya anaknya baik, sopan, dan rajin beribadah lo,” saya tersenyum dan berkata dalam hati “gimana ini? saiful sudah saya anggap seperti adik saya sendiri, posisi lagi sakit, masa saya tega mengambil pacarnya yang sudah kurang lebih 5 tahun dijalaninya,” ibu berkata kepada saya ”besok kalau tamunya kesini lagi jawab dengan sopan ya nak! Masalah mau atau tidak terserah kamu,” saya menjawab “iya bu.”
Hari kedua di jam yang hampir sama tamu yang kemarin datang lagi, “tok tok tok,” suara pintu terdengar dari depan TV dan saya langsung bergegas berlari untuk membuka pintu. “ehh bapak, silahkan masuk pak! silahkan duduk!” “ya terimakasih mas,” jawab tamu tadi. saya, bapak, ibu, dan tamu tadi ngobrol ngalor-ngidul sambil bercanda, tiba-tiba tamu tadi melontarkan pertanyaan ke saya “gimana mas?” tanpa basa-basi saya jawab “Laili itu pacar teman saya yok pak, posisi saat ini teman saya sakit kanker, jadi saya berat untuk bilang mau,” “ya sudah kalau gitu, saya tahu”. disaat kami enak-enaknya ngobrol ada telepon dari paman saya kalau saya disuruh menemaninya di rumah sakit Sultan Agung Semarang sekarang juga karena bibi saya lagi diopname disana, saya langsung meninggalkan obrolan dan langsung on the way semarang.
Dalam perjalanan pikiran mulai berwarna-warni, lidah sudah terlanjur bilang tidak, tapi hati membrontak “kapan lagi ada kesempatan emas seperti ini? Gadis yang mirip orang jepang telah saya abaikan,” tapi harus gimana lagi. Setelah nyampe rumah sakit istirahat sejanak, tiba-tiba kepikiran untuk mencari facebooknya Laili lalu mengirimkan pesan sedemikian rupa kepadanya, pesan sudah tak kirim dan dijawab, dia menjelaskan kalau hubunganya dengan Saiful sudah putus, dari pihak Saiful yang memutuskan, dia minta nomor hp saya dan saya kasih. Saya kaget kenapa saya terlalu cepat mengambil keputusan? Kenapa saya tidak mendengar pasca putusnya hubungan mereka lalu keluarga Laili datang ke rumahku? Hemmm tertidur pulas sudah di sofa rumah sakit.
Saat saya dibangunkan paman, kukira hari masih pagi, eh nggak taunya jam 14.00 lewat, sholat shubuh dan dzuhur pun terlewatkan, Saya langsung mandi dan cari makan. Selesai makan saya pamit pulang kepada paman untuk mengambil baju ganti untuk paman dan bibi, sampai di jalan terdengar nada dering hp dari dalam tas punggunggung saya, saya berhenti dan turun dari motor dan mengangkat telepon, “mas aku Laili, maaf banget ya mas kalau kejadian kemaren itu salah paham mungkin dengan kejadian ini kita bisa berteman baik,” saya menjawab “ya ndak apa-apa”.
Mungkin belum rizki saya, saya selalu menjalani hari tanpa melalaikan do’a agar jodoh cepat kunjung datang, seperti banyak orang yang updet status facebook “kalau jodoh tidak mungkin tertukar” kata-kata itu salah satu motivasi saya dalam menunggu tambatan hati saya. Sampai saat ini saya sering mengirim pesan ke Laili baik lewat sms, facebook, dan media sosial lainnya namun tidak pernah mendapat jawaban satu kata pun. Saya tetap menilai kalau Laili adalah gadis yang baik makanya saya tidak ada bosannya untuk mengirimkan pesan cinta untuk dirinya.

putri semata wayang

Pada suatu pagi yang cukup cerah, seperti biasa aku harus menjalankan kewajibanku sebagai ayah. Aku adalah seorang pemulung, yang memliki kondisi tidak seperti orang normal lainnya. Kakiku pincang akibat tertabrak mobil ketika aku mengais nafkah. Aku mempunyai istri yang sudah meninggal sejak 3 tahun yang lalu akibat penyakit kanker yang dideritanya, jadi saat ini aku hanya tinggal bersama putri semata wayangku, Nina. Ketika masih kecil, Nina adalah anak yang baik dan ceria. Semenjak ibunya meninggal, Nina berubah seratus delapan puluh derajat. Nina berubah menjadi anak yang suka membangkang orangtua, bahkan suka pulang malam jika bepergian bersama teman-temannya. Aku yang lumpuh tak sanggup melarang Nina yang mulai memberontak.
Setelah pulang bekerja, aku kembali ke rumah. Di jalan menuju rumah, aku melihat Nina sedang bercanda tawa bersama teman-teman sebayanya. Masa SMA memang masa yangg paling indah, namun untuk anak seperti Nina, sungguh ini mengkhawatirkan. Aku menyapanya, “Nina, ayo pulang bareng ayah, yuk!” tak ada respon. Seolah-olah aku tak berbicara kepada Nina, sehingga Nina menghiraukanku. Namun ada salah satu teman Nina berkata, “Eh Nin, ada bokap lo tuh! Samperin gih, kasian jalannya pincang-pincang gitu. Hahaha.” mereka tertawa terbahak-bahak, lalu Nina menjawab dengan nada kesal, “Apaan sih! Bukan bokap gua tuh! Gak sudi gua punya bokap kaya dia.” aku terdiam. Aku bahkan tak sanggup berkata apa-apa lagi. Daripada Nina malu di depan teman-temannya karena kehadiranku, akhirnya aku berpamitan untuk pulang. “Ayah pulang dulu ya. Nina segera pulang ya nak.” tak ada jawaban, hanya ada gelak tawa dari sekumpulan remaja SMA beserta anakku sendiri, Nina.
Sesampainya di rumah, aku harus segera menyiapkan makanan untuk Nina. Jika tidak ada makanan, Nina akan mengamuk dan mengobrak-abrik rumah lagi. Untuk memenuhi keperluan bahan pokok, terkadang aku masih mengutang di warung tetangga sebelah. Mereka memakluminya, namun tak enak jika aku terus mengutang. Jadi, setiap pulang kerja, setidaknya harus ada Rp. 20.000,- di kantongku. Rp. 5.000,- aku tabung takutnya ada keperluan yang mendadak, dan Rp. 15.000,- aku gunakan untuk makan sehari-hari.
Fajar telah tiba, Nina baru sampai di rumah. Makanan yang sudah aku masak tadi siang, sudah tak hangat lagi. Nina kembali mengamuk kepadaku, “Yah! Gimana sih udah tau anaknya cape abis sekolah makanannya malah dingin begini! Ah selera makanku jadi hilang!” dengan dipenuhi amarah Nina memasuki kamarnya dan membanting pintu. Aku taget bukan kepalang, aku ketuk pintunya dengan perlahan, “Maafkan ayah, Nina. Ayah panaskan lagi ya makanannya.” Dengan segera aku membakar arang dan memanaskan makanan yang sudah dingin tadi.
Aku kembali mengetuk pintu kamarnya lagi, namun tak ada respon. Mungkin Nina terlalu capek, jadi aku biarkan saja ia beristirahat sejenak. Matahari sudah mulai terbit, aku harus membangunkan Nina untuk pergi ke sekolah. Nina selalu susah untuk dibangunkan, “Nina, ayo bangun nak. Sekolah.”, “Ayah berisik ah! Ngantuk nih!”, kubuka dengan perlahan pintu kamarnya, kutarik selimutnya, dan aku elus keningnya, “Ayo Nina. Sekolah ya nak.” Nina menempis tanganku lalu pergi ke luar dari kamar. Nina sudah bangun, aku harus menyiapkan sarapan untuknya. “Tempe lagi, tempe lagi! Bosan aku hidup miskin seperti ini terus!” ucapnya sambil ke luar dari rumah. Aku tertahan di kursi, sedih melihat kelakuan putri semata wayangku yang jauh berbeda dari yang dulu.
Waktu menunjukkan pukul 07.00, aku segera berangkat untuk memulung. Hari ini aku ingin bekerja sampai sore, agar hasil yang didapatkan juga lebih. Sesampainya di rumah, tak disangka Nina sudah ada di rumah. Ia sudah berdandan menggunakan make-up bekas ibunya, dan menggunakan pakaian paling bagus yang ia miliki. “Mau kemana nak? Cantik sekali anak ayah.” tanyaku, “Mau ke ulang tahun temen. Dah ya.” Setiap Nina ke luar, aku selalu menunggu sampai dia pulang. Jam 10.00, Nina baru pulang, dengan wajah muramnya, ia berkata “Ayah! Nina gak mau punya hp jadul kaya gini! Udah jadul, rusak pula! Pokoknya Nina mau hp layar sentuh seperti punya temen Nina!” dengan amarahnya yang menggebu, ia memasuki kamar dan mendobrak pintunya.
Aku masuk ke kamar, mengecek apakah tabunganku sudah cukup untuk membahagiakan Nina. Dengan tersenyum, aku berjanji akan memenuhi semua kebutuhan Nina yang belum terpenuhi. Besok, sepulang kerja, aku akan membelikan sesuatu untuknya.
Fajar telah terbit, aku menyiapkan sarapan dan membangunkan Nina untuk sekolah. Nina berangkat, aku pun berangkat dengan senang. Setelah hasil memulungku cukup, aku bergegas untuk pergi ke pusat pembelanjaan di tengah kota. Aku ingin membelikan kipas angin, tv, kulkas, dan handphone baru untuk Nina. Sudah lama aku menabung ternyata hasilnya cukup untuk membelikan semua yang diinginkan Nina. Karena masih ada sisa, aku membelikan baju dan sepatu untuk Nina,
“Mbak, tolong pilihkan baju dan sepatu yang cocok untuk anak SMA ya.” ujarku pada pelayan toko. Dengan senang, aku membayar baju dan sepatu tersebut.
Sesampainya di rumah, dengan bersemangat aku menyambutnya di rumah. Namun, hingga jam 01.00 pagi, Nina belum pulang. Ah, mungkin Nina menginap di rumah Yona, sahabat dekatnya. jadi aku terus berpikir positif. Keeskokan paginya, aku berangkat kerja seperti biasa. Tanpa disangka, dalam perjalanan, aku tertabrak oleh mobil dan nyawaku tak tertolong.
Ketika jenazahku dikerubungi banyak orang, tak disangka Nina datang dan memeluk jasadku dengan erat. Ia menangis seakan tak bisa hidup tanpaku, “Ayah! Bangun, Ayah! Maafkan aku yang selalu menyakitimu! Bangun ayah jangan tinggalkan Nina! Nina tak sanggup, Yah!” Dengan menangis terisak-isak ia terus memelukku. Sudah menjadi arwah, aku hanya bisa melihatnya, tanpa bisa memeluk tubuhnya lagi. Semoga saja, Nina pulang ke rumah dan melihat barang-barang yang aku persiapkan untuknya.

kemunafikan hati

Aku mencoba untuk tidak mengenal cinta kembali, rasa perih yang masih tertinggal membuat aku merasa malas jika harus membahas tentang cinta.
Namaku Ina, kisah ini berawal ketika aku masih duduk di kelas 2 Sma. Aku adalah anak yang biasa saja, aku tidak pintar seperti anak-anak lainnya. Namun aku belajar aktif di organisasi pramuka ya… karena pramuka lah aku mengenalnya. Seseorang yang sangat aku kasihi. Dia anak yang baik dan dia adalah adik kelasku yang sekolahnya cukup jauh dari rumahku. Butuh waktu sekitar 4 jam untuk menuju ke sana. Sebut saja namanya Tama.
Pada awal aku mengenal Tama semua terasa biasa saja tidak ada yang berbeda dari apa yang aku rasa, namun dengan berjalannya waktu semuanya berubah. Terasa begitu lama waktu yang kujalani tampa kabar darinya. Bagai siput mendaki gunung. Semua menyiksa hati ini, jujur saja aku malu mengakuinya.
Hingga suatu hati Tama mengungkapkan perasaannya lewat telepon karena tidak memungkinkan jika kami harus bertemu. “aku sayang sama kamu, aku ingin kamu jadi pelengkap cerita hidup aku. jujur perasaan ini telah lama aku simpan sejak pertama kali kita bertemu di bumi perkemahan, aku sadar saat itu kamu tak lagi sendiri. Saat ini aku benar benar tak mampu lagi harus terus bersembuyi di balik drama ini karena aku sangat menyayangimu. Apa kamu mau jadi pendamping ku?” semua terasa begitu indah, bagai kupu-kupu yang menemukan bunga mawar yang sedang bermekaran.
Sejak saat itu lah aku memiliki hubungan spesial dengannya. Semuanya berubah setelah 1 bulah hubungan kami. Tama jarang memberi kabar padaku, sebagai gadis kecil yang normal aku sangat merindukannya. Lagi-lagi harus aku katakan aku malu mengakui perasaan ini.
Pada ahirnya aku menepis semua gengsi ini, aku memilih menghubungi dan meneleponnya untuk menanyakan kejelasan hubungan kami. “kemana aja udah lama gak ada kabar? udah lupa apa sama saya?” kataku meluapkan rasa kesal ku “maaf sayang, sayang sendiri tau aku lagi melatih anak anak paskib di sekolah jadi belum bisa standby dengan hp. Maafin aku ya kesayanganku.” jawabnya santai. Aku tak bisa menahan rasa rinduku. Ingin sekali aku kata kan padanya “bahwa aku sangat merindukannya” namun kata-kata itu hanya tersimpan di dalam bilik hatiku dan yang sangat aku sesali aku mengatakan bahwa aku capek dengan hubungan kami. “teserah!!! intinya jika telah bosan ya ngomong gak usah bertele tele aku capek jika harus kayak gini terus” kataku cuek “sayang jangan gitu si. Aku minta maaf, aku ingin kita selalu bersama tidak berhenti karena hal sepele seperti ini. Aku mohon kasih aku kesempatan satu kali lagi” katanya memohon padaku “oke. tapi inget cuman satu kali lagi” Aku berkata seketus itu walau ada berjuta keinginan di dalam benak ini namun lagi lagi rasa malu mengalahkan semuanya.
Keesokkan harinya bagai petir yang mengenai ubun-ubun, ternyata Tama telah memilih mengakhiri kisah kami dan pergi jauh mengebara mencari cinta sejatinya dan tentunya bukan aku. “mungkin benar kata kamu lebih baik kita akhiri hubungan ini karena aku gak mau kita saling menyakiti, mungkin ini semua bisa buat kamu lebih bahagia. Maafin aku yang gak bisa ngelakuin apa yang kamu mau. Semoga kamu dapetin seseorang yang lebih baik dari aku, sekali lagi aku minta maaf belum bisa buat kamu bahagia” smsnya padaku. Ingin sekali aku katakan aku tidak mau, namun aku malu mengakui perasaanku dan kubiarkan Tama pergi walau hati bagi diiris sembilu.
Aku menyesali segala yang terjadi, kusesali kesalahanku yang tak berani mangakui bahwa aku sangat menyayanginya dan aku takut kehilangannya. Jika waktu dapat terulang kembali akan kukatakan padanya bahwa AKU SANGAT MENCINTAINYA DAN AKU INGIN DIA MENJADI PENDAMPING HIDUPKU, namun percuma nasi telah menjadi bubur dan tak mungkin akan terulang kembali karena dia telah bahagia di sana.

pesan terakhir

“Mentari mau kemana? Tolongin Bunda ya, antarin kue ke rumah bu Fahimah. Tau kan sayang?”
“Aduh, suruh Tito aja ya Bun. Tari buru-buru ada les privat di kafe. Minta uangnya Bun, Rp 100.000,00.”
“Ya udah sayang. Bunda suruh Tito aja. Buat apa uang sebanyak itu Nak?”
“Yah, untuk bayar less Bun.”
“Ya sudah, ini. Belajar yang giat ya sayang.”
Mentari segera menyalami sang Bunda untuk kemudian berlalu menuju kafe. Teman-temannya sudah menunggu sejak tadi.
Di rumah, Tito disuruh sang Bunda untuk mengantarkan kue pesanan bu Fahimah. Tito pun dengan senang hati melakukannya.
Saat dalam perjalanan pulang ke rumah, tanpa sengaja Tito lewat di kafe tempat Mentari belajar. Alangkah terkejutnya ia saat melihat kakaknya tak sedang belajar, melainkan tertawa tak jelas entah apa gerangan. Tito benar-benar marah. Terlebih lagi saat tahu bahwa kakaknya yang mentraktir teman-temannya itu. Dengan geram, Tito mendekati Mentari.
“Kakak bohong ya sama Bunda?”
Sontak, Mentari kaget bukan kepalang. Ia pun menarik Tito jauh dari keramaian.
“Apa sih kamu To? Ganggu aja.”
“Kenapa kakak bohong sama Bunda? Kakak bilang mau belajar, tapi malah hura-hura gak jelas. Ingat kak, Bunda banting tulang kerja buat biayain sekolah kita, bukan untuk senang-senang kak.”
“Sekali sekali gak apa-apalah To.”
“Istighfar kak. Kakak bisa dicap durhaka loh.”
“Udah ah, kamu pulang sana.”
Tak berhenti sampai disitu. Mentari mulai sering berbohong pada Bundanya. Dia lebih sering keluyuran daripada membantu sang Bunda di rumah. Hingga, tibalah saat itu. Saat dimana Tito kembali memergoki kakaknya di kafe. Tapi kali ini, bersama seorang pria. Mentari menyandarkan kepalanya dengan mesra tanpa malu di bahu pria itu. Pria yang jelas saja bukan mahromnya. Tito naik pitam. Tanpa pikir panjang, segera ia dekati mereka dengan membawa air mineral yang ia beli di warung dekat rumah. Tito lalu menyiramkan air itu ke kepala kakaknya. Bukan main kagetnya Mentari.
“Kamu kenapa sih To? Gak bisa liat kakak senang apa? Kamu selalu saja merusak kebahagiaan kakak, Mau kamu apa sih?”
“Astaghfirullah kak, sadar kak. Bagaimana jika Bunda tau kelakuan kakak seperti ini? Kakak, Bunda pasti akan sedih kak.”
“Bunda gak akan tau kalau kamu gak laporin.”
“Masya Allah, kakak. Sadar kak, kakak gak kasian sama Bunda?”
“Udah, kamu jangan banyak ngomong To. Kamu pulang sekarang.” Sambil mendorong Tito ke jalan. Hal yang tak diduga, sebuah mobil pick up melaju ke arah Tito hingga terjadilah kecelakaan itu. Tito jatuh bersimbah darah di jalanan. Mentari lemas seketika melihat adiknya terkapar seperti itu.
“Ya Allah Titooo. Bangun dek, bangun. Maafin kakak dek.” Tangis Mentari semakin menjadi-jadi.
Mobil pick up itu ingin membawa Tito ke rumah sakit. Namun sayang, Tito sudah dijemput Malaikat Izrail sebelum sampai rumah sakit.
Pesan terakhir Tito untuk Mentari “kak, jaga Bunda…yaa. jangan bohongin… Bunda lagi. Kakak janji yaa… jangan lupa… berjilbab kak…”
Setelah itu, Tito menghembuskan nafas terakhirnya. Kini, yang tersisa dalam diri Mentari tinggallah penyesalan. Tapi ia sadar, larut dalam kesedihan takkan membuat orang mati hidup lagi. Yang harus ia lakukan saat ini adalah merubah diri menjadi lebih baik lagi..

memories

Aku masih diam termenung di depan laptop. Memikirkan kalimat apa yang akan aku gunakan untuk membalas pesannya. Aku masih memandang lekat nama akun media sosialnya. Apa yang harus aku lakukan? Di satu sisi, aku tidak ingin ‘memaniskan’ kalimatku hanya untuk membuatnya merasa tenang. Itu sama saja berbohong, bukan? Tidak, aku tidak terlalu terbiasa dengan aktivitas itu. Tapi, aku juga tidak ingin menyinggung perasaannya dengan kalimatku yang kata ‘mereka’ tajam. Aku membaca kalimat itu sekali lagi.
“Gak tau, nov. Gak ada yang kayak kamu lagi.”
Memikirkan hal ini, sejenak ingatanku melayang ke masa dua tahun lalu. Dimana ‘rasa’ itu masih melekat erat di hatiku. Rasa yang kini entah hilang kemana?
Kami masih diam dengan pikiran kami masing-masing. Aku tidak tahu apa yang ia pikirkan. Sedangkan pikiranku? Aku masih berdoa, berharap ia akan menjadi laki-laki pengecut yang menarik perkataannya. Dia akan kembali memerbaiki hubungan kami yang bahkan baru kami mulai.
Aku menunduk menyembunyikan mataku yang mulai membendung. Menarik napas panjang menunggunya, yang aku rasa ia juga menungguku bereaksi mengatakan atau melakukan sesuatu. Tuhan, aku ingin tahu apa yang ia pikirkan saat ini.
“Jangan sampai ada novi-novi yang lain.” kataku. Aku merasa diam pun percuma, tidak akan menyelesaikan masalah. Aku pun sadar kalau harapanku terlalu mendekati titik mustahil, mengingat alasannya meninggalkanku. Ia menemukan orang yang -menurutnya- lebih baik daripada aku.
Aku tahu siapa orangnya. Aku memang tidak mengenalnya. Aku hanya tahu sosok gadis yang menjadi pengalih perhatiannya. Tapi, meskipun aku sama sekali tidak mengenalnya, aku tahu benar kalau gadis itu juga sudah memiliki pasangan. Ia sudah memiliki kekasih.
Tuhan, aku benar-benar ingin tahu apa yang ada di dalam pikiran laki-laki di hadapanku ini. Ah bodohnya aku, saat ini aku mencintai orang bodoh.
Aku berdiri dari dudukku dan berjalan menjauh darinya. Ia masih diam dan aku masih tidak tahu apa yang ia pikirkan dalam diamnya. Aku menjauh karena aku tidak tahan lagi menahan mendungan mataku. Aku tidak ingin ia melihatku menangis.
Selama satu tahun sejak ia memutuskan mengakhiri hubungan kami yang baru berjalan beberapa bulan. Aku masih mengharapkannya. Tapi, aku juga ingin ia bahagia dengan orang yang ia sayangi. Menyakitkan memang, tapi memohonnya kembali bukanlah sifatku. Aku memohon pada Tuhan, bukan padanya.
Satu tahun aku harus memerhatikannya dari jauh, satu tahun aku harus memendam rindu, satu tahun aku menangisi rasa sakit ini. Tapi, di antara rasa putus asaku, aku juga merasa kalau ia akan kembali. Aku yakin, Tuhan tidak akan tidur. Ia akan mendengar setiap harapanku. Ia akan kembali. Bila perlu ia akan menyesali keputusannya. Ia akan menggantikan posisisku. Ia akan berharap aku kembali padanya.
Aku yakin Tuhan akan mendengar harapanku.
Dan Tuhan membuktikan kuasanya. Ia mengharapkanku kembali. Tapi sayang, ia datang di saat yang tidak tepat. Ia tidak datang di satu tahun dimana aku masih memerhatikannya dari jauh, di satu tahun dimana aku masih memendam rindu, di satu tahun dimana aku masih menangisi keputusannya yang membuatku sakit.
Masa ini, dua tahun sejak kejadian menyebalkan itu terjadi. Masa dimana aku sudah mulai sadar kalau ia bukanlah yang terbaik. Mulai sadar kalau ia benar-benar laki-laki pengecut. Mulai sadar kalau menunggu bukanlah aktivitas yang menyenangkan.
Aku manatap kembali pesan yang ia kirimkan. Mulai mengetikkan beberapa kalimat untuk membalas pesannya. Aku hanya berharap, ini tidak akan menyakitinya. Aku membaca ulang kalimat balasanku.
“Gak ada yang kayak aku lagi? Rif, jangan sampai ada novi-novi yang lain.”
Aku menutup laptopku. Menghampiri seseorang yang sudah sejak setengah jam yang lalu menungguku. Dia adalah orang yang mampu membuatku sadar kalau menunggu itu bukan aktivitas yang menyenangkan. Ia adalah alasan aku berhenti menunggu.