Minggu, 27 November 2016

satu hari berdampak selamanya

Terdengar suara ketukan pintu dan suara dari luar pintu kamarku.
“Re!” Ucapnya. Panggilan itu membuatku menutupkan novel yang sedang aku baca.
“Iya bu, masuk saja!” Ucapku dengan sedikit berteriak.
Masuklah seorang wanita yang berumur lanjut, dia adalah ibuku.
“Ada apa bu?” Tanyaku dengan suara lembut
“Ibu mau nyuruh kamu beli keperluan untuk pengajian malam ini. Kamu sibuk tidak? Kalau sibuk biar kakakmu saja yang ke pasar.”
“Ohh, enggak kok bu. Lagian rere bosen dari pagi di rumah terus.”
Tak perlu waktu lama untuk berdandan, aku hanya tinggal menggunakan jilbab. Aku pun pergi ke pasar menggunakan motor matic punyaku. Di rumahku sudah menjadi kebiasaan mengadakan pengajian sebulan sekali, itu adalah tradisi keluarga kami. Aku menyusuri pasar dan membeli makanan untuk pengajian malam nanti. Hanya makanan ringan, buah-buahan dan makanan manis. Semuanya sudah lengkap, tidak banyak hanya perlu 1 kresek besar untuk itu. Kresek itu tidak menyulitkanku di motor, lagi pula aku sudah biasa membeli makanan untuk pengajian. Kalaupun bukan aku yang membelinya pasti kakakku yang membelinya. Aku segera menaiki motor untuk pulang. Aku berhenti di sebuah toko aksesoris untuk mengambil bross pesananku. Toko itu bernama toko “bunga”. Aku turun dari motor, di sebelah motorku ada sebuah motor yang sama, di atas motor itu ada seorang laki-laki yang sedang memegang handphone dan menggunakan earphone. Pemuda itu bernama Adit, dia bersekolah di sekolah yang sama denganku di SMAN 17 *******. Persoalannya bukan karena ia satu sekolah denganku, tapi karena dialah pemuda yang aku sukai. Aku tidak menampakan rasa sukaku itu. Aku memasuki toko itu, dan sudah kubayar bross yang sudah aku pesan itu. Aku segera ke luar dari toko itu. Terlihat seorang wanita berada di belakang Adit, wanita yang cantik menggunakan t-shirt berwarna putih dengan celana di atas lutut. Sangat berbeda penampilannya denganku, dia cantik dan modis sedangkan aku seperti ini. Aku kira dia adalah kekasih adit, entah benar atau salah.
Tak ada yang tahu kalau aku menyukai adit, aku memang wanita yang pendiam. Kepada kakakku pun aku tidak menceritakannya karena malu. Yang bisa aku lakukan hanya menunggunya melewati kelasku, itulah yang selalu aku lakukan setiap hari. Teman seselasku sania sepertinya mengetahui kalau setiap hari aku menunggunya dari dalam kelas, karena dia bertanya kepadaku.
“Eh re, lo suka ya sama Adit?” Ucapnya yang duduk di sebelah kursiku
“Apaan sih san, aku gak ngerti.”
“Udah gak usah ngelak, aku tahu kok. Aku sudah mengetahuinya, setiap hari kamu hanya memandangi pintu kelas kita yang terbuka lalu setelah adit terlihat jalan di depan pintu kamu selalu tersenyum dan setelah itu tak lagi memperharikan pintu kelas yang terbuka. Aku bisa bantu kamu re!”
“Iya aku mengaku, aku menyukainya. Bantu? Tapi percuma saja dia mungkin sudah punya pacar. Aku melihatnya kemarin, pacarnya sama sepertimu cantik dan juga modis.”
“Benarkah? Ya sudah kamu juga berubah saja penampilannya seperti aku. Agar adit menyuakimu.”
“Mmm, aku tidak mau san.”
“Kamu ini, katanya cinta tapi begitu. Cinta itu butuh pengorbanan re!”
“Iya juga sih, tapi kan aku memakai jilbab. Bagaimana kalau keluargaku mengetahui aku membuka jilbab?”
“Tidak akan, kau membuka jilbab hanya di sekolah saja re. Aku punya seragam yang sudah kecil tapi masih bagus kok. Sepertinya cukup di badan kamu. Nanti besok kamu pagi-pagi datang dulu ke rumah aku, entar kamu aku dandani biar cantik. Mau tidak?”
Aku hanya mengangguk dan tersenyum.
Besoknya, aku datang ke rumah sania seperti yang ia suruh. Aku memakai baju sekolah yang berbeda dari biasanya dengan baju lengan pendek, dan rok diatas lutut. Aku merasa kurang nyaman memakainya, tapi demi adit aku akan melakukannya. Sampailah di sekolah. Semua orang menatapku tak percaya, begitu pun adit, laki-laki yang mebuatku merubah penampilan. Adit terlihat keget melihatku, aku bisa melihat dari matanya yang melongo. Aku berjalan seperti cara sania berjalan. Hari itu sania ada pemotretan di sekolah, dia adalah seorang model sekolah. Aku pun diajaknya untuk menjadi model tambahan, aku pun mengikutinya. Tidak aneh memang memakai baju dan rok sepertiku sekarang ini. Tapi mungkin yang membuat semua orang menatapku karena sebelumnya aku memakai jilbab yang berbeda dari siswi lainnya. Setelah pemotretan, sania menyarankanku untuk mendekati adit. Dia menyuruhku untuk memanggilnya ketika jam pulang sekolah.
Aku menunggu laki-laki itu melewat ke depan kelasku. Tak lama menunggu laki-laki itu terlihat berjalan di depan pintu kelas yang kosong, hanya ada aku di sana. Dia pulang telat, karena dia sudah rapat OSIS. Aku tahu dari sania.
“Tunggu.” Teriakku.
Adit terlihat jalan mundur untuk melihat orang yang memanggilnya. Aku berdiri dan jalan menghampirinya.
“Aku mau bicara sesuatu, apa kamu sedang sibuk?” Ucapku tersenyum dan mengangkat alisku.
Dia hanya menggeleng.
Kami pun duduk di koridor depan kelasku.
“Mau apa?” Ucapnya, untuk pertama kalinya dia bicara kepadaku
“Aku renita. Langsung saja ya. Aku suka sama kamu, maaf kalau aku lancang” ucapku yang merendahkan suara.
“Aku tahu kamu renita, semua orang membicarakanmu. Suka?.”
“Iya aku suka. Aku sudah merubah penampilanku untukmu.” Ucapku tersenyum menampakan deretan gigiku.
“Astagfirullah. Aku tidak menyangka kalau kamu merubah penampilan demi seorang laki-laki sepertiku. Aku tidak pernah menyuruhnu bukan?”
“Iyah aku melakukannya untukmu. Tidak, kau tidak menyuruhku. Kau ingat kan waktu aku melihatmu di depan toko bunga. Pacarmu berpenampilan sangat modis dan cantik. Sania teman sekelasku menyarankanku untuk berpenampilan seperti pacarmu itu. Lagian hampir semua siswi di sekolah ini sama seperti penampilanku sekarang ini kan?”
“Pacar? Dia sepupuku. Aku tidak menyangka wanita yang dikagumi di sekolah ini oleh diriku. Wanita yang berbeda dengan wanita lain, wanita itu memakai jilbab. Tapi mengubah penampilan yang amat bagus itu, menjadi seperti ini. Jujur saja aku juga menyukaimu.”
“Oh jadi itu sepupumu. Kamu juga menyikaiku?”
“Iya, tapi itu dulu. Sebelum kamu merubah penampilanmu.”
“Hah, tapi kan itu semua demi kamu dit.”
“Sudahlah aku sekarang jijik melihatmu, auratmu di umbar-umbar. Wanita seperti apa kau ini?”
Aku pun berlari dengan menangis meninggalkannya.
Bodohnya aku. Imanku begitu rendah, begitu mudahnya membuka jilbab yang sudah aku kenakan dari dulu. Waktu kecil pun aku tidak membuka jilababku. Auratku sudah terlihat oleh seluruh siswa dan guru laki-laki yang bukan muhrimku. Hanya satu hari memang aku berpenampilan seperti siswi di sekolahku, tapi itu membuatku terlihat jijik. Tak lama lagi foto-fotoku akan di tempel di mading sekolah. Entah bagaimana keluarga, ibu, ayah, kakak memandangku. Sungguh aku mempermalukan diriku dan keluargaku. Hanya demi laki-laki aku melakukaknnya. Laki-laki yang justru menyukaiku ketika memakai jilbab. Teman, apa sania adalah teman? Benar dia adalah teman. Tapi teman yang seperti apa? Teman yang menuntunku ke jalan yang menjauhi Allah. Satu hari penampilan ku berdampak selama hidupku. Di dunia pun sudah dicap jijik oleh sebagian orang dan di akhirat akan merasakan panasnya api neraka juga rambut yang digantung karena menampakan mahkota yang seharusnya aku jaga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar