Minggu, 27 November 2016

paper

‘Kau tahu kertas? Jika sudah diremas takkan bisa utuh lagi. Jika sudah terkoyak takkan bisa kembali seperti semula lagi. Begitu juga denganku, aku menyesal karena sudah menyia-nyiakanmu. Aku menyesal tak menyadari aku juga mencintaimu, aku juga menyesal karena tak bisa melihat ketulusan hatimu dalam mencintaiku. Aku menyesal.’ – Alwan Prayudha.
11 Juni 2014
Ve Rosaline menatap Alwan yang kini berada di hadapannya. Dengan seorang gadis. Alwan yang melihat Ve mulai menyuruh gadis itu pergi. Lalu Alwan menghampiri Ve yang terdiam menyaksikan adegan mesra tadi.
“Hei! Sejak kapan lo di sini?” Alwan memandang Ve dari atas sampai bawah, Ve memakai rok merah selutut, dan baju lengan panjang berwarna biru. Ve tersenyum simpul. Ve adalah pacar Alwan, dia sangat mencintai Alwan, bahkan sampai rela diduakan oleh Alwan yang nyatanya seorang playboy.
“Sejak tadi. Sibuk?” Tanya Ve dengan suara tercekat.
“Yaa seperti yang lo lihat.” Alwan kemudian duduk di bangku yang ada di sampingnya. Gadis di hadapannya ini adalah gadis yang dipilih oleh mamanya untuk menjadi kekasih sekaligus pendamping hidupnya.
Meskipun cantik, tapi Alwan tidak tertarik dengan gadis ini. Alwan tahu bankan sangat tahu kalau Ve sangat mencintai dirinya.
“Inget gak ini hari apa?” Alwan memandang Ve remeh. Terkesan merendahkan. Lalu terkekeh.
“Ini hari Kamis. Kenapa?” Ve menunduk lesu. Lalu dia menggeleng kemudian pergi. Alwan yang tidak mengerti bergidik sendiri karena bingung.
‘Sampai kapan aku bertahan? Sampai kapan aku nunggu kamu buat mencintai aku? Jujur aku lelah, melihatmu tak peduli denganku membuatku lelah mencintai. Bahkan kamu lupa ini hari ulang tahun aku.’
Ve menunduk dengan tangisannya, ia seolah ingin melupakan seluruh hari yang dijalaninya. Ia lelah, sangat lelah. Lalu sebuah tangan laki-laki memberinya sapu tangan.
“Nih, hapus air mata kamu. Jelek tahu gak.” Ucapnya, Ve mengangkat kepalanya dan mendapati Mike berada di hadapannya.
“Mike…” lirih Ve.
“Tumpahin semuanya di pundak aku.” Ucap Mike sambil menepuk-nepuk pundaknya. Dan seketika Ve menghambur ke pundak Mike. Menumpahkan tangisannya di sana dengan semua kesakitan batin yang selama ini dipendam sendiri olehnya.
‘Andai saja kamu tahu aku di sini nunggu kamu. Tapi cinta membutakan kamu buat tetap nunggu Alwan.’ Lirih Mike dalam hati. Hatinya sebenarnya terkoyak melihat gasis Yang dicintai menangisi pria Yang bahkan selalu menyakitinya. Dia mencintai gadis ini sepenuhnya. Tapi gadis ini malah memilih lelaki yang jelas-jelas telah membuatnya sakit hati.
Kemudian tanpa sengaja Alwan melihat adegan itu. Dia mematung, darahnya seketika beku. Dan entah mengapa ia merasa sesak melihat Ve yang terlihat seolah memeluk Mike. Sesak?
‘Kok gue nyesek gini ya? Nyesek gara-gara ngeliat mereka. Kok bisa?’ Alwan berusaha menepis semua perasaan anehnya kemudian berlalu meninggalkan mereka dengan ketusnya.
Mike membujuk Ve agar makan. Sungguh, gadis ini terlihat sangat pucat. Ia bahkan menolak semua makanan dan menolak diajak ke dokter oleh Mike. Mike sampai kehabisan akal agar Ve mau mendengar bujukannya.
‘Alwan, ya Alwan.’
Mike merogoh saku kantung celananya. Mengambil ponselnya lalu menelpon seseorang. Dia agak sedikit menjauh dari Ve.
“Ngapain lo telepon?”
“Ve sakit, dan dia gak mau makan sama sekali.”
Alwan terdiam sebentar merasakan sesak yang kembali menelusup dalam dadanya yang bidang. “Terus, urusannya sama gue apa?”
“Lo emang gak punya hati ya! Kali ini gue minta tolong dengan sangat sama lo, please lo ke rumah Ve sekarang dan bujuk dia supaya makan.”
“Huh… 10 menit lagi gue sampai!”
Alwan mematikan telepon sepihak. Mike sedikit lega karena Alwan mau datang membujuk Ve. Mike menatap Ve yang pucat pasi dan… sangat lemas.
“Ve makan ya. Nanti kamu tambah sakit.” Ve menggeleng lemah kemudian menutup sebagian wajahnya dengan selimut kuning miliknya.
Suara pintu itu berhasil mengalihkan pandangan Mike dan Ve Yang tertutup selimut. Sepintas Ve tersenyum tipis.
“Ve lo sakit? Udah makan?” Mike yang melihat keduanya pergi meninggalkan ruangan. Meninggalkan mereka berdua.
Ve hanya bisa diam, berusaha menekan perasaan gugupnya dengan susah payah. Mengapa Alwan tiba-tiba perhatian padanya?
“Nih gue bawain lo bubur. Lo belum makan kan? Gue suapin dah.” Alwan membuka bungkusan tersebut. Lalu mulai menyuapi Ve dengan, tulus.
Ia tersenyum menatap Ve yang melahap makanannya. Kenapa sekarang ia jadi sering takut kehilangan Ve? Why?
14 Juni 2014
“This’s my destiny. This’s my destiny.” Ve mengucapkan kata-kata itu berulang kali. Entah kenapa.
“Ve kamu kenapa?” Ia berbalik menatap Mike, lalu menggeleng plan Dan tersenyun berusaha meyakinkan Mike bahwa ridak terjadi apa-apa.
“Kalau ada masalah cerita aja ya sama aku. Jangan dipendam.” Ucap Mike kemudian tersenyum.
‘Aku yang mengagumimu dalam diamku. Tak pernah kau tahu aku sangat mencintaimu lebih dari sekadar sahabat.’

Tidak ada komentar:

Posting Komentar