Minggu, 27 November 2016

sadar

Minggu sore yang cerah, waktu yang pas bagi Rika untuk membaca setiap koleksi buku yang ia miliki. Sore ini alam sangat bersahabat, angin yang sepoi-sepoi, simponi alam yang menenangkan hati lewat suara-suara burung yang sedang bercengkrama dengan asiknya, Matahari yang cerah dan tarian elok khas pohon-pohon Ketapang membuat sore ini lebih hidup. Kali ini Rika membaca buku yang diberikan pada sosok misterius, yang disebutnya Penggemar rahasia. Begitulah sebutan Rika untuk orang yang sering memberikan bingkisan misterius untuknya, tanpa mengetahui maksud orang itu memberikan bingkisan kepadanya. Kedatangan bingkisan-bingkisan tersebut sudah sekitar 4 tahun lamanya. Menurut Rika, orang ini cukup hebat. Mengapa demikian? karena sejak ia tinggal di Poso hingga berada di Palu saat ini bingkisannya tidak berhenti hadir di teras rumah dan luar jendela kamarnya. Tidak hanya itu, isi bingkisan yang diberikan penggemar rahasianya adalah sesuatu yang ia sukai dan belum pernah diberikan oleh orang lain termasuk ibunya.
Rika tinggal berdua dengan ibunya yang super sibuk di Sulawesi tengah, tepatnya di kota Palu setelah sebelumnya Ia tinggal di Kabupaten Poso yang masih satu provinsi dengan kota Palu. Rika pindah karena alasan ibunya adalah seorang motivator dan pengusaha yang mempunyai banyak cabang perusahaan di Indonesia. Ayah? Rika tak pernah tahu apa arti seorang ayah di hidupnya bertemu saja tidak pernah, Rika tak pernah tahu mengapa sosok ayah tidak ada dalam keluarganya, ibunya tak pernah memberitahu soal ini.
Keesokan harinya di sekolah..
Kring.. kring.. kring..
Bel pertanda istirahat berbunyi nyaring memenuhi ruang-ruang sekolah. Beberapa teman-teman kelas Rika berlarian mendekat ke pagar sekolah dan mencoba bergabung dengan beberapa siswa lain yang telah berada di pagar sekolah.
Rasa penasaran berhasil mengantarkan Rika bejalan mengikuti teman-temannya. Ada sebuah gerobak kecil dan seorang bapak yang menggunakan Toru, topi khas dari Sulawesi Tengah. Dari bau dan bentuknya, Rika tahu bahwa jajahan itu bernama Jeppa, makanan tradisonal yang berasal dari Sulawesi Tengah yang terbuat dari sagu dan ditambahkan gula merah atau ikan. Ternyata itu yang menarik perhatian benyak siswa.
“Ehhh… makanan apa itu kalian jangan jajan sembarangan! Itu belum tentu steril! Murahan lagi!” Larang Rika kepada teman-taman lainnya yang sedang antri membeli jajahan tersebut.
“Ini nak kamu coba dulu jepa buatan bapak, siapa tahu kamu suka boleh tambah kok”. Bapak itu mencondongkan jepa yang ada di tangannya untuk Rika.
“Apa?! Tambah?!, liat saja malas apalagi makan, mau tambah lagi!”. Rika membentak dan malah menyingkirkan jepa yang ada di tangan bapak itu hingga jatuh ke tanah. Sontak bapak penjual jeppa dan orang-orang yang menyaksikannya terkejut dengan sikap Rika menghina dengan kata-kata kasar, tak sepatah katapun yang keluar dari mulut seseorang. Jelas saja! Selain terkenal sebagai siswi yang banyak mengukir prestasi di sekolahnya, ia juga cantik, kaya raya, keturunan terpandang. Dan.. bumbu penyedap lainnya ialah kemampuannya untuk ngebuli teman-taman lainnya. Itulah yang membuat orang takut angkat bicara dan tunduk kepadanya, bak seorang putri raja.
Tanpa disengaja mata Rika tertuju pada sebuah objek di gerobak jeppa itu yang tidak asing lagi oleh matanya. Dia seperti teringat oleh sesuatu tetapi langsung ia tepis dan segera pergi dari tempat itu.
Malam ini. Langit merangkak menghitam. Malam ini, Rika mendapati langit malam seperti sendu menahan tangis. Tiba-tiba jendela langit terkuak lebar menawarkan rinai gerimis yang menitik di antara rimbunan kegelapan. Rika menatap lepas keluar dari balik teralis jendela kayu. Udara dingin datang seiring jatuhnya tetesan uap air di permukaan kaca. Pikirannya seakan ikut serta bertelanjang riang dalam gemuruh air hujan yang makin deras. Matanya berkilat penuh kisah. Sebentar lagi Sweetseventeennya tetapi ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Yah… ia ingin ada seorang ayah yang mengucapakan selamat ulang tahun untukya, tapi sayang sosok itu tidak pernah ada di hidupnya.
Ting.. nong..
Bel rumah berhasil ditekan oleh seseorang. Dengan malasnya Rika beranjak dari kamar menuju pintu ruang tamu. Rika mendapati sebuah bingkisan tak bertuan hadir menyapanya di depan pintu.
Dibukanya bingkisan itu oleh Rika. Di dalam bingkisan berisikan sebuah liontin cantik dan sepucuk surat. Dalam liontin itu terdapat foto seorang pria yang samar-samar wajahnya sama seperti seseorang.
“Penjual jeppa itu?” Dadanya berdegup lebih kencang dari sebelumnya, pupil matanya seketika membesar mendapati obyek gambar itu, pandangannya nanar sejurus ke obyek. Seakan tak percaya bahwa wajah yang ada dalam liontin itu adalah bapak penjual jeppa di sekolahnya.
Giliran sepucuk surat yang ia jemput dari dalam bingkisan.
Untuk anakku, Rikanayah.
Assalamu’alaikum. War. Wab.
Bagaimana kabarmu nak, sehat?
besok kamu sudah berusia 17 tahun, selamat ulang tahun ya nak, semoga kamu selalu dalam lindungan-Nya. Ya.. penjual jeppa di depan gerbang sekolahmu, sesuatu yang menjijikan bukan?. Maafkan ayah yang tidak bisa menjadi ayah yang berprofesi lebih layak dari ini, yang tidak bisa mengantarmu ke mana-mana dengan mengendarai mobil mewah, tidak bisa membuatmu bahagia lebih tepatnya. Ayah tahu kau malu dengan keadaan ayah, maafkan ayah karena terlahir sebagai seorang yang menjijikan. Percayalah dengan ayah, ayah tidak akan membicarakan ini ke siapapun, berlagaklah seprofesional mungkin seakan kau tak tahu siapa ayah, begitupun dengan ayah. Sekian.
Wassalamu’alaikum. War. Wab.
Bulir-bulir air menggenang di pelupuk matanya, bersiap untuk lepas landas di pipi cubbynya. Hatinya yang keras tersentuh begitu membaca surat dari penggemar rahasianya yang tidak lain ayah kandungnya sendiri. Tapi di sisi lain, perasaan takut, marah, khawatir, dan perasaan lainnya berkecamuk dalam hati seolah tak menerima kenyataan yang ia rasa bisa merusak reputasinya di sekolah.
Pagi ini matahari bermalas-malasan, hingga detik ini ia tak juga muncul. Kelabu, itu adalah warna yang mendominasi langit pagi persis seperti apa yang Rika rasakan. Roda mobil yang sedang melaju kencang yang ditumpangi Rika mengerem secara tajam di depan sekolahnya hingga ia tersentak ke depan, itu berhasil menyadarkannya dari lamunan yang cukup panjang.
Rika turun dari mobil, tapi tidak dengan gaya angkuhnya kali ini ia hanya berjalan perlahan dan agak tertunduk, sekali-kali ia mencuri pandang pada bapak penjual jeppa yang sedang menyeberang ke sebuah kios pinggir jalan. Dan…
Bruuk!
Kejadian ini menciptakan sebuah adegan yang tak terduga.
“Ayah!” Rika bergegas mendekat ke arah kecelakaan itu, Rika merasa sangat khawatir.
Dalam kecelakaan ini, beberapa siswa dan masyarakat sekitar membopong bapak penjual jeppa itu ke dalam mobil Rika dan dilarikan ke RSUD terdekat. Rika terus menangis ia takut akan terjadi hal yang tidak diinginkan. Teman Rika yang ikut serta mengantar bapak itu keheranan melihat dirinya yang menangis berlebihan.
“Eh.. Rika dari tadi kamu nangis terus, memangnya kenapa sih? Dia kan hanya penjual jeppa..” Tanya temannya pada Rika.
“Dia ayahku!” Rika terisak dengan sangat. Melihat ekspresi wajah teman-temannya yang keheranan, Rika melanjutkannya kembali. “Kenapa?! Kalian tidak terima?! Kalian jijik sama dia?!” Isakannya semakin deras.
“Oh.. selamat deh buat anak penjual jeppa yang menjijikan. Bantuin tuh ayahmu jualan kan kasihan. Hahaha..” Hinaan teman-temannya begitu melekat di hati Rika, seperti ia menghina ayahnya dulu.
Tak lama kemudian…
“Keluarga bapak ini, adik yang mana?” Tanya dokter yang baru keluar dari ruangan ayahnya.
“Saya dok, saya anaknya” jawab Rika dengan cemas.
“Maaf dek, kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Tapi.. tapi beliau tidak bisa diselamatkan. Ternyata bapak ini juga menderita penyakit jantung yang sudah sangat lama dideritanya.” Terang Dokter pada Rika.
Bagai ditancap sebilah pisau, hatinya hancur, dadanya sesak menahan perih pilu dan isak tangis tak karuan. Pucat pasi dan keringat dingin menjadi perpaduan yang kompak. Air mata tak mau kalah mengiringi hembusan nafas yang hampa rasanya, tak mampu lagi dibendung pecah seketika. Ini merupakan pukulan yang telak bagi Rika. Orang yang berperan sebagai penggemar rahasia dan pertama kali mengucapkan selamat ulang tahun kepadanya telah pergi untuk selama-lamanya. Rika menyesal telah menghina dan mengabaikan ayahnya. Andai waktu bisa diputar, ia berjanji akan selalu menyayangi dan menghargai ayahnya, bagaimanapun kondisi dan profesinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar