Hari itu aku sedang mengikuti MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah). Aku berada di gugus 3 bersama sahabat karibku Putri. kakak pembimbingku adalah kak riko dan kak citra. Kak riko sangat tampan dan juga sangat baik, dia tidak pernah marah seperti kakak-kakak pembimbing yang lain. Aku mulai jatuh cinta kepadanya. Selama tiga hari MPLS tak henti-hentinya aku memperhatikan kakak pembimbingku itu dan sepertinya dia juga mengetahui kalau aku menyukainya, karena ia sering menangkap basah diriku yang sedang memperhatikannya.
Aku tidak bilang kepada siapapun kalau aku menyukai kakak kelasku itu, aku juga tidak bilang kepada sahabatku yang bernama putri. Aku sudah tahu kalau dia tidak akan mengijinkanku pacaran, alasannya karena di islam tidak boleh berpacaran. Aku selalu mengikuti Kajian Remaja Islami Putri (KRIP) yang selalu diadakan di mesjid yang dekat dengan rumah putri. Aku rutin mengikuti kajian itu dari kelas satu smp, satu minggu sekali setiap hari kamis.
Aku sedang membaca sebuah novel favoritku di taman utama sekolah baruku, di SMA 17 *******. Aku duduk di taman sendiri, tanpa sahabatku putri. Karena dia sedang makan di kantin, tetapi aku sedang berpuasa senin kamis. Kebetulan putri sedang halangan, jadi dia tidak berpuasa. Sedang asyiknya membaca, kursi taman yang terbuat dari kayu berbunyi “krekett” sepertinya ada seseorang yang duduk di sampingku. Aku menutup novel yang sedang asyik kubaca, karena merasa tidak nyaman ketika ada yang duduk di sebelahku. Aku mengankat kepala, aku menengok ke arah orang yang duduk di sebelahku. di didepanku ada seseorang yang tidak asing lagi dia adalah kak riko kakak kelasku. Dia tersenyum kepadaku, membuat jantungku berdetak lebih kencang. Aku membalas senyumannya. Aku segera berdiri.
“De sebentar, boleh duduk dulu?” Ucapnya menghentikan diriku yang akan berdiri, aku pun duduk kembali.
“Iya kak.” Ucapku tersenyum. Bagaimana aku bisa menolaknya, aku terlalu senang mendengarnya.
“De, boleh minta id line?.”
Aku memberikan id ku kepadanya. Sejak saat itu aku sering linean dengannya. Selama kurang lebih satu minggu, handphoneku tidak pernah jauh dari diriku. Untuk pertama kalinya aku meninggalkan kajian, karena kak riko melarangku. Aku tidak bisa menolaknya.
“De sebentar, boleh duduk dulu?” Ucapnya menghentikan diriku yang akan berdiri, aku pun duduk kembali.
“Iya kak.” Ucapku tersenyum. Bagaimana aku bisa menolaknya, aku terlalu senang mendengarnya.
“De, boleh minta id line?.”
Aku memberikan id ku kepadanya. Sejak saat itu aku sering linean dengannya. Selama kurang lebih satu minggu, handphoneku tidak pernah jauh dari diriku. Untuk pertama kalinya aku meninggalkan kajian, karena kak riko melarangku. Aku tidak bisa menolaknya.
Aku menunggu seseorang di taman dekat rumahku. Seorang laki-laki datang memakai baju basket berwarna biru dongker tanpa lengan. Dia duduk di sampingku.
“Lama ya de?”
“Enggak ko kak? Udah latihan basketnya?” Ucapku
“Oh gitu, udah kok udah selasai.”
Aku hanya mengangguk
“De. Kakak mau bilang sesuatu. Boleh tidak?” Ucapnya tersenyum miring
“Iya kak silahkan.” Ucapku dengan suara yang sedikit bergetar. Saat itu aku bergikir kalau kakak kelasku itu akan menembakku.
“Kakak suka sama ade, ade mau jadi pacar kakak?” Ucapnya
“Mmmm, iya kak ade mau.” Bagaimana bisa aku menolaknnya, aku juga sangat mencintainya.
“Tapi de, ada satu permintaan dari kakak. Kalau memang ade mau terima kakak ade harus buka jilbab ade, tapi kalau tidak mau juga kakak juga tidak bisa memaksa.”
“Tapi kak, aku…”
“Pilihannya ada di tangan ade. Apapun keputusan ade kakak terima.” Ucapnya memotong pembicaraanku.
Aku bergikir sebentar, kesempatan ini tidak akan datang dua kali.
“Iya kak, ade terima.”
“Makasih sayang.” Dia memelukku.
“De, boleh dibuka sekarang jilbabnya?”
“Iya kak.”
“Boleh kakak yang bukain?” Ucapnya memegang jilbabku.
Aku hanya mengangguk. Kak riko melepaskan jilbabku, juga ikat rambutku.
“Kamu lebih cantik jika tidak memaki jilbab.”
Aku pun tersenyum.
“Lama ya de?”
“Enggak ko kak? Udah latihan basketnya?” Ucapku
“Oh gitu, udah kok udah selasai.”
Aku hanya mengangguk
“De. Kakak mau bilang sesuatu. Boleh tidak?” Ucapnya tersenyum miring
“Iya kak silahkan.” Ucapku dengan suara yang sedikit bergetar. Saat itu aku bergikir kalau kakak kelasku itu akan menembakku.
“Kakak suka sama ade, ade mau jadi pacar kakak?” Ucapnya
“Mmmm, iya kak ade mau.” Bagaimana bisa aku menolaknnya, aku juga sangat mencintainya.
“Tapi de, ada satu permintaan dari kakak. Kalau memang ade mau terima kakak ade harus buka jilbab ade, tapi kalau tidak mau juga kakak juga tidak bisa memaksa.”
“Tapi kak, aku…”
“Pilihannya ada di tangan ade. Apapun keputusan ade kakak terima.” Ucapnya memotong pembicaraanku.
Aku bergikir sebentar, kesempatan ini tidak akan datang dua kali.
“Iya kak, ade terima.”
“Makasih sayang.” Dia memelukku.
“De, boleh dibuka sekarang jilbabnya?”
“Iya kak.”
“Boleh kakak yang bukain?” Ucapnya memegang jilbabku.
Aku hanya mengangguk. Kak riko melepaskan jilbabku, juga ikat rambutku.
“Kamu lebih cantik jika tidak memaki jilbab.”
Aku pun tersenyum.
Aku berjalan sendiri di gang menuju rumahku. Terlihat putri yang berjalan ke arahku.
“Ya allah re. Kok kamu enggak pake jilbab sih?” Ucapnya seperti khawatir.
Aku hanya memeluknya.
“Put, aku sudah berpacaran dengan kak riko. Aku menyukainya dari mulai kita MPLS.”
“Aku ikut senang kalu kamu juga senang. Tapi re kemana jilbab kamu?” Ucapnya memegangi rambutku
“Mmm, aku melepasnya. Karena kak riko tidak suka kalau aku memakai jilbab. Toh aku lebih cantik kalau tidak pakai jilbab kan?.”
“Astagfirullah re. Ingat re, pacar bukanlah segalanya.” Ucapnya memandangiku
“Oh, jadi kamu tidak senang jika aku berpacaran dan membuka jilbabku. Ya sudah kita jangan bersahabat lagi, pasti seorang sahabat akan mendukung apapun yang membuat sahabatnya senang. Tapi kamu malah seperti itu put.” Aku pun pergi meninggalkannya.
“Ya allah re. Kok kamu enggak pake jilbab sih?” Ucapnya seperti khawatir.
Aku hanya memeluknya.
“Put, aku sudah berpacaran dengan kak riko. Aku menyukainya dari mulai kita MPLS.”
“Aku ikut senang kalu kamu juga senang. Tapi re kemana jilbab kamu?” Ucapnya memegangi rambutku
“Mmm, aku melepasnya. Karena kak riko tidak suka kalau aku memakai jilbab. Toh aku lebih cantik kalau tidak pakai jilbab kan?.”
“Astagfirullah re. Ingat re, pacar bukanlah segalanya.” Ucapnya memandangiku
“Oh, jadi kamu tidak senang jika aku berpacaran dan membuka jilbabku. Ya sudah kita jangan bersahabat lagi, pasti seorang sahabat akan mendukung apapun yang membuat sahabatnya senang. Tapi kamu malah seperti itu put.” Aku pun pergi meninggalkannya.
Sudah satu bulan aku jadian dengan kak riko. Aku sudah tidak lagi mengikuti KRIP karena kak riko melarangku. Aku berjalan di taman dekat rumahku. Ada potret yang tidak enak terlihat, pemandangan yang membuat hatiku hancur. Terlihat kak riko sedang bergandengan tangan dengan wanita yang sepertinya seumuran denganku. Aku segera menghampiri mereka.
“Kamu siapanya dia?” Ucapku kepada wanita itu
“Aku pacarnya riko.”
“Apa? Tapi dia pacarku.” Lirihku
“Maaf re, hubungan kita cukup sampai di sini. Aku sudah mencintai pacarku yang sekarang.” Ucap kak riko.
Aku segera berlari ke rumah putri dan air mata pun mengalir dengan deras.
“Kamu siapanya dia?” Ucapku kepada wanita itu
“Aku pacarnya riko.”
“Apa? Tapi dia pacarku.” Lirihku
“Maaf re, hubungan kita cukup sampai di sini. Aku sudah mencintai pacarku yang sekarang.” Ucap kak riko.
Aku segera berlari ke rumah putri dan air mata pun mengalir dengan deras.
Aku mengetok pintu rumah putri. Putri pun segera membukanya. Aku segera memeluknya. Aku menangis di pelukannya.
“Kenapa re?”
“Puttt, kak riko selingkuh.”
“Oh ya, apa yang aku bilang pacar bukanlah segalanya kan?”
“Iya put, aku menyesal sudah mengenal yang namanya pacaran dan juga telah melepas jilbabku.”
“Kenapa re?”
“Puttt, kak riko selingkuh.”
“Oh ya, apa yang aku bilang pacar bukanlah segalanya kan?”
“Iya put, aku menyesal sudah mengenal yang namanya pacaran dan juga telah melepas jilbabku.”
Aku kembali mengenakkan jilbab. Benar kata putri bahwa pacaran bukanlah segalanya, ada hal yang lebih penting dari itu yaitu masa depan kita. Terimakasih putri telah mengingatkanku, semoga persahabatan kita diberkahi oleh allah, amiiin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar