Diusiaku yang sudah menginjak usia ke-25, saya sudah mulai panik mengenai siapa jodoh saya nanti, siapa yang mampu diajak berjuang bareng mengarungi warna-warni kehidupan yang tidak mudah ini. Dalam kepanikanku aku mulai berusaha untuk menemukan sang tambatan hati dengan berdo’a, bernadzar, dan mulai merubah sikap yang tadinya jutek sekarang menjadi ramah walaupun rada kaku.
Sehabis sembahyang lima waktu aku selalu tidak lupa untuk memohon, Ya Allah aku mohon kepadaMU tolong segera pertemukan aku dengan jodohku, entah itu baik ataupun buruk aku bersedia meneriamanya karena saya sadar kalau saya juga bukan sosok laki-laki yang sempurna.
Hari demi hari silih berganti, rutinitas nyari duit terus berjalan, lantunan do’a pun terus terucap walaupun kadang putus asa, dikala aku putus asa aku selalu pasrah, kenapa jodohku tak kunjung datang? Jiwa ini mulai bangkit ketika menengok ke sekitar, banyak orang yang lebih tua dariku juga masih banyak yang belum menikah, ada juga yang sudah menikah tapi tidak lama malah pisah-pisahan.
Di suatu hari disaat aku putus asa dan pasrah habis misya’ di rumahku ada tamu, obrolan demi obrolan telah dilontarkan antara bapakku, ibuku dan tamu tadi sambil makan sajian seadanya, saya hanya dengar obrolan meraka dengan samar-samar dari depan TV ternyata tamu tersebut bermaksud menjodohkanku dengan keponakannya. Setelah obrolan demi obralan terlontar di antara mereka, tamu tadi pamit pulang bersalaman dengan bapak, ibu dan saya.
Setelah tamu pulang ibu ngomong kepada saya “nak kamu mau ndak dijodohkan dengan Laili? Anak tunggal dari bapak Bandi dan ibu Karomah,” saya sebelum menjawab mikir dulu, apakah ini jawaban dari do’a ku? “gimana nak?” Kata ibu, saya menjawab “hemm Laili itu pacarnya Saiful kok bu, teman saya yang sering main kesini dan sekarang lagi sakit kanker,” ibu menjawab “OOO ya udah terserah kamu kalau gitu, katanya anaknya baik, sopan, dan rajin beribadah lo,” saya tersenyum dan berkata dalam hati “gimana ini? saiful sudah saya anggap seperti adik saya sendiri, posisi lagi sakit, masa saya tega mengambil pacarnya yang sudah kurang lebih 5 tahun dijalaninya,” ibu berkata kepada saya ”besok kalau tamunya kesini lagi jawab dengan sopan ya nak! Masalah mau atau tidak terserah kamu,” saya menjawab “iya bu.”
Hari kedua di jam yang hampir sama tamu yang kemarin datang lagi, “tok tok tok,” suara pintu terdengar dari depan TV dan saya langsung bergegas berlari untuk membuka pintu. “ehh bapak, silahkan masuk pak! silahkan duduk!” “ya terimakasih mas,” jawab tamu tadi. saya, bapak, ibu, dan tamu tadi ngobrol ngalor-ngidul sambil bercanda, tiba-tiba tamu tadi melontarkan pertanyaan ke saya “gimana mas?” tanpa basa-basi saya jawab “Laili itu pacar teman saya yok pak, posisi saat ini teman saya sakit kanker, jadi saya berat untuk bilang mau,” “ya sudah kalau gitu, saya tahu”. disaat kami enak-enaknya ngobrol ada telepon dari paman saya kalau saya disuruh menemaninya di rumah sakit Sultan Agung Semarang sekarang juga karena bibi saya lagi diopname disana, saya langsung meninggalkan obrolan dan langsung on the way semarang.
Dalam perjalanan pikiran mulai berwarna-warni, lidah sudah terlanjur bilang tidak, tapi hati membrontak “kapan lagi ada kesempatan emas seperti ini? Gadis yang mirip orang jepang telah saya abaikan,” tapi harus gimana lagi. Setelah nyampe rumah sakit istirahat sejanak, tiba-tiba kepikiran untuk mencari facebooknya Laili lalu mengirimkan pesan sedemikian rupa kepadanya, pesan sudah tak kirim dan dijawab, dia menjelaskan kalau hubunganya dengan Saiful sudah putus, dari pihak Saiful yang memutuskan, dia minta nomor hp saya dan saya kasih. Saya kaget kenapa saya terlalu cepat mengambil keputusan? Kenapa saya tidak mendengar pasca putusnya hubungan mereka lalu keluarga Laili datang ke rumahku? Hemmm tertidur pulas sudah di sofa rumah sakit.
Saat saya dibangunkan paman, kukira hari masih pagi, eh nggak taunya jam 14.00 lewat, sholat shubuh dan dzuhur pun terlewatkan, Saya langsung mandi dan cari makan. Selesai makan saya pamit pulang kepada paman untuk mengambil baju ganti untuk paman dan bibi, sampai di jalan terdengar nada dering hp dari dalam tas punggunggung saya, saya berhenti dan turun dari motor dan mengangkat telepon, “mas aku Laili, maaf banget ya mas kalau kejadian kemaren itu salah paham mungkin dengan kejadian ini kita bisa berteman baik,” saya menjawab “ya ndak apa-apa”.
Saat saya dibangunkan paman, kukira hari masih pagi, eh nggak taunya jam 14.00 lewat, sholat shubuh dan dzuhur pun terlewatkan, Saya langsung mandi dan cari makan. Selesai makan saya pamit pulang kepada paman untuk mengambil baju ganti untuk paman dan bibi, sampai di jalan terdengar nada dering hp dari dalam tas punggunggung saya, saya berhenti dan turun dari motor dan mengangkat telepon, “mas aku Laili, maaf banget ya mas kalau kejadian kemaren itu salah paham mungkin dengan kejadian ini kita bisa berteman baik,” saya menjawab “ya ndak apa-apa”.
Mungkin belum rizki saya, saya selalu menjalani hari tanpa melalaikan do’a agar jodoh cepat kunjung datang, seperti banyak orang yang updet status facebook “kalau jodoh tidak mungkin tertukar” kata-kata itu salah satu motivasi saya dalam menunggu tambatan hati saya. Sampai saat ini saya sering mengirim pesan ke Laili baik lewat sms, facebook, dan media sosial lainnya namun tidak pernah mendapat jawaban satu kata pun. Saya tetap menilai kalau Laili adalah gadis yang baik makanya saya tidak ada bosannya untuk mengirimkan pesan cinta untuk dirinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar