Minggu, 27 November 2016

antara dia dengan dia

Pagi yang cerah, matahari masih bersembunyi di balik dedaunan. Kicau burung bersahutan menambah suasana indah di pagi itu. Ini adalah hari pertama Naura sekolah. Ya, seperti hari-hari sebelumnya, Naura selalu sarapan bersama ibunda tercintanya. Pagi itu setelah semua dirasa cukup, Naura berangkat ke sekolah.
“Bun, Naura berangkat dulu ya? Assalamu’alaikum..” pamit Naura sekaligus salamnya pada bunda.
“Wa’alaikumussalam.. hati-hati di jalan ya?” pesan bunda
“Iya bun” jawab Naura singkat.
Setibanya dia di sekolah, tanpa basa basi lagi, Naura langsung memasuki ruang kelas barunya. Ya, kelas 1X-A. Tetapi, siapa yang menyangka? Ternyata, ada murid baru di kelas itu. Ya, dan yang datang adalah 2 orang cowok kembar. Dian dan Dilan. Pada saat itu pula, Naura merasakan cinta pandangan pertama terhadap dua cowok tersebut.
Hari berganti bulan. Kini, hubungan Naura dan Dilan semakin akrab saja. Dan rupanya, mereka telah mempunyai hubungan khusus tanpa sepengetahuan Dian. Melihat tingkah Naura dan Dilan yang semakin hari semakin semakin akrab, Dian merasakan suatu rasa yang baru pertama kali dia rasakan. Cemburu. Ya, cemburu. Tetapi bagaimanapun juga, dia harus mengikhlaskan Naura untuk dimiliki Dilan. Dia bisa kok mengalah, asal saudara kembarnya itu senang.
Hari ini mungkin adalah hari terburuk bagi Naura, Dian dan keluarga Dian. Bagaimana tidak? Dilan, seorang cowok yang sangat dia cintai kini harus pergi meninggalkannya karena kecelakaan.
“Dilan… kamu kenapa pergi meninggalkan aku? Nanti, siapa yang akan menghiburku? Siapa?? Hari-hariku pasti akan sepi tanpa kehadiranmu di sisiku lagi. Oh, kenapa ini terjadi padamu Lan? Kenapa?! Please Lan, go back and stay with me again. You’re the only that I love Lan…” ratap Naura hari itu sembari menangis sejadi-jadinya.
Benar saja, hari-hari Naura kini sepi tanpa kehadiran Dilan. Tiada lagi canda tawa dari Dilan yang akan membuatnya tersenyum sepanjang hari. Kini, yang ada hanyalah dia dengan Dian. Ya, Dian. Saudara kembar Dilan. Meski Dian berusaha menghibur dirinya, tetapi tetap saja, dia belum bisa merelakan kepergian Dilan, kekasihnya.
“Ayolah Ra. Kamu harus semangat!! Ingat, Dilan pasti juga akan sedih melihat kamu seperti ini.” hibur Dian.
“Ian, kamu kenapa sih care sama aku?” tanya Naura.
“Aku care sama kamu karena aku kasihan melihat kamu Ra. Setiap hari kamu hanya merenung seorang diri. Masih ada aku di sini, aku juga bisa kok memperlakukanmu sama seperti Dilan.”
Begitulah Naura. Dia tetap tidak mau ada orang yang menggantikan posisi Dilan sekalipun itu saudara kembarnya sendiri. Tetapi hari ini entah mengapa, dia merasa tidak enak dengan Dian. Dia sama sekali tidak menghargai usaha Dian yang berusaha untuk membuatnya tersenyum lagi. Alhasil, muncullah ide dalam dirinya. Hari ini dia akan mencoba pergi ke rumah Dian untuk meminta maaf padanya. Dan alangkah terkejutnya dia ketika sampai di rumah Dian. Pembantu Dian saat itu mengatakan bahwa dia koma dan dirawat di rumah sakit akibat kanker otak. Lantas saja Naura menjenguk Dian ke rumah sakit. Tetapi… dia terlambat. Sesampainya di rumah sakit ternyata Dian sudah tidak bernyawa lagi. Kini, dia menyesal karena selama ini telah cuek kepada Dian.
“Ya Tuhan.. mengapa Kau ambil Dian? Mengapa mereka harus pergi meninggalkan diriku? Apa salahku? Jika saja bisa kuputar waktu, aku pasti akan ramah padanya. Akan kuhargai usahanya. Semua usahanya. Huftt… aku menyesal Tuhan, aku menyesal.” keluhnya dalam hati yang disertai tetesan air mata penyesalannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar